Kelas Menengah Membentuk Tren Belanja Online di Indonesia

Kelas Menengah Membentuk Tren Belanja Online di Indonesia

Perkembangan ekonomi digital yang cukup pesat tersebut memberikan dampak bagi perekonomian nasional, maupun tenaga kerja Indonesia. Dampak positif bagi perekonomian adalah tumbuhnya berbagai platform jual beli online (e-commerce), transportasi online (ride hailling), jasa keuangan online (financial technology), hingga digitalisasi pariwisata (online travelling).

Salah satu faktor pendorong terbesar tercermin dari pertumbuhan pengguna internet di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 64,8 persen pada 2018 atau naik 10,1 persen dari tahun sebelumnya dengan penetrasi sebesar 54,7 persen.

Baca juga : Masyarakat Kelas Menengah Harus Mulai Sadar Investasi

Pertumbuhan kelas menengah pun ternyata mendorong perilaku berbelanja di ranah online dan e-commerce. Hasil laporan Bank Dunia berjudul Aspiring Indonesia: Expanding the Middle Class menyebutkan, terdapat terdapat 52 juta masyarakat kelas menengah ke atas (emerging affluent) di Indonesia yang tergolong aman secara finansial dengan biaya konsumsi bulanan berkisar antara Rp1,2 juta hingga Rp6 juta.

Managing Director Head of Digital Banking Group PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto menuturkan, kalangan menengah ini dari segi pendidikan tergolong memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau setidaknya menyelesaikan tingkat sarjana dengan pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.

Baca juga : Survei Bank Indonesia: Optimisme Konsumen Desember 2019 Menguat

Kemandirian finansial dianggap sebagai fondasi yang memungkinkan segmen ini untuk menjadi versi terbaik yang mereka bisa. Mereka percaya bahwa bukan soal seberapa banyak uang yang dihasilkan, melainkan apa yang dapat dilakukan dengan dana yang dimiliki tersebut,” ucapnya.


Facebook dan Bain & Company juga melakukan studi yang menyoroti bagaimana perilaku dan preferensi kelas menengah membentuk tren belanja di e-commerce dan online. Hasil studi itu menunjukkan, dunia digital memiliki peran penting dalam pertumbuhan bisnis dan e-commerce di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Studi yang dilakukan dari 12.965 responden, 30 CEO dan pemodal di negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam ini juga menerangkan bahwa kelas menengah di Asia Tenggara akan mendominasi 70-80 persen dari pertumbuhan konsumen digital pada 2025.

Baca juga : Bagaimana Aplikasi Digital Bisa Mengubah Wajah Bisnis?

Diprediksi pada 2025 akan ada sekitar 310 juta konsumen digital di Asia Tenggara. Indonesia sudah tentu menjadi negara dengan angka pertumbuhan konsumen digital terbesar dan ini yang mendorong pertumbuhan belanja online.

Studi ini juga menunjukkan konsumen digital di Indonesia tumbuh dari 64 juta pada 2017 menjadi 102 juta pada 2018. Artinya, konsumen digital di Indonesia jumlahnya mencapai 53 persen atau setengah dari total populasi pada tahun 2018. Dengan kenaikan angka konsumen digital ini berimbas pada pertumbuhan belanja online yang diprediksi tumbuh 3,7 kali dari USD13,1 miliar pada 2017 menjadi USD48,3 miliar pada 2025.

Baca juga : Tipe Gaya Belanja Manakah Anda?

Secara referensi, konsumen Indonesia punya kecenderungan untuk omnichannel, di mana mereka akan mencari toko online atau offline saat tahu apa yang ingin dibeli. Rata-rata orang Indonesia berbelanja di 3,8 platform sebelum mereka membuat keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan ada potensi besar bagi brand untuk menumbuhkan pasar Indonesia.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
March 10, 2020, 3:25 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.