Survei BI: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas

Survei BI: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas

Bank Indonesia (BI) kembali merilis hasil Survei Harga Properti Residensial untuk periode triwulan IV 2019. Hasil survei BI pada triwulan IV 2019 ini mengindikasikan adanya kenaikan harga properti residensial secara triwulanan masih terbatas. Hal tersebut terlihat dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2019 sebesar 0,30 persen quarter to quarter (qtq). Angka itu lebih rendah dibandingkan 0,5 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.

Secara triwulanan, perlambatan kenaikan harga properti residensial terjadi pada tipe rumah kecil yang tercatat turun dari 0,96 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 0,26 persen. Sementara IHPR rumah tipe menengah dan tipe besar secara triwulanan mengalami sedikit kenaikan.

Kedua tipe rumah tersebut tercatat tumbuh sebesar 0,32 persen (qtq) pada triwulan IV. Untuk masing-masing tipe rumah terdapat peningkatan sebesar 0,30 persen dan 0,24 persen pada triwulan sebelumnya. “Kenaikan harga properti residensial tertinggi pada triwulan IV 2019 terjadi di kota Surabaya sebesar 0,11 persen dan diikuti Jabodetabek-Banten sebesar 0,09 persen,” tulis hasil survei Bank Indonesia ini.

Baca juga : Survei Bank Indonesia: Optimisme Konsumen Desember 2019 Menguat

Secara tahunan IHPR juga tercatat pertumbuhan terbatas sebesar 1,77 persen year on year (yoy), lebih rendah dibanding 1,80 persen pada triwulan III 2019 dan 2,95 persen pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan IHPR untuk rumah kecil cenderung melambat dari triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 2,83 persen. Begitu pula dengan tipe rumah besar yang juga melambat menjadi 1,03 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan IHPR pada rumah tipe menengah mengalami peningkatan sebesar 0,02 persen menjadi 0,32 persen. Wilayah yang mengalami pertumbuhan tertinggi secara tahunan ada di kota Medan sebesar 6,96 persen, diikuti oleh kota Manado sebesar 2,48 persen.


Penjualan Properti Residensial

Penjualan properti residensial pada triwulan IV 2019 menunjukkan adanya kontraksi -16,33 persen dari 13, 18 persen. Penurunan ini terjadi pada seluruh tipe rumah, yaitu rumah besar (-18,78 persen), rumah menengah (-1242 persen), dan rumah kecil (-17,68 persen). secara tahunan penjualan residensial juga mengalami penurunan pertumbuhan dari 13,95 persen menjadi 1,19 persen.

Baca juga : Gubernur BI: Ekonomi Syariah Sebagai Arus Baru Menuju Indonesia Maju

Penyebabnya adalah suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang tinggi membuat pertumbuhan penjualan properti masih terhambat. Berdasarkan data BI, rata-rata suku bunga KPR pada triwulan IV 2019 sebesar 9,12 persen. Faktor lain yang menjadi penghambat adalah perizinan atau birokrasi dalam pengembangan lahan, proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR di bank, dan masalah pajak.

Pembiayaan Properti Residensial

Survei BI menjelaskan, pengembang masih mengandalkan modal daru dana internal perusahaan sebagai sumber utama pembiayaan perumahan dengan persentase sebesar 58,80 persen dari modal perusahaan. Sumber pembiayaan lainnya meliputi pinjaman perbankan dan pembayaran konsumen.

Untuk pembelian properti residensial oleh konsumen, mayoritas masih dibiayai dari fasilitas KPR. Hal itu terlihat dari 71,88 persen konsumen masih menggunakan fasilitas KPR untuk membeli properti residensial. Sementara sebanyak 20,23 persen menggunakan pembayaran tunai bertahap dan uang tunai sebanyak 7,89 persen.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Feb. 19, 2020, 4:44 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.