Mengenal Bahaya FOMO dalam Keuangan dan Investasi

Mengenal Bahaya FOMO dalam Keuangan dan Investasi

Mungkin sebagian dari Anda pernah mendengar istilah Fear of Missing Out (FOMO). Istilah ini muncul pertama kali dalam sebuah makalah yang ditulis oleh seorang marketing strategist bernama Dan Herman sekitar tahun 2000.

FOMO atau Fear of Missing Out merupakan salah satu bentuk sindrom di mana penderitanya merasakan kecemasan sosial kalau dirinya tertinggal tren. Ketakutan atau kecemasan ini yang mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang, yang seringkali tanpa melihat kondisinya terlebih dahulu.

Baca juga : Mengenal Bahaya "Latte Factor" dalam Pengelolaan Keuangan

Istilah ini bahkan sampai masuk dalam Oxford English Dictionary pada 2013. Pada awalnya, FOMO lebih banyak dikaitkan dengan aktivitas di dunia digital khususnya media sosial. Namun dalam perkembangannya, FOMO merembet ke sisi lain yang membahayakan kondisi keuangan. Bahkan FOMO juga mulai diidap oleh sebagai investor saham pemula.

FOMO dan Keuangan

Fenomena FOMO bukan hanya sekadar singkatan saja, namun juga punya dampak yang serius pada kondisi keuangan. Jika dibiarkan, sindrom ini dapat mengakibatkan memburuknya kondisi keuangan yang dalam jangka panjang akan menjadi sumber ketidakbahagiaan.

Kebanyakan fenomena FOMO ini menyerang kalangan milenial dan generasi setelahnya. Alasan takut ketinggalan tren terkini menjadi sumber dari munculnya FOMO ini. Demi dlilihat trendi, akhirnya mereka tidak segan-segan merogoh kocek dalam untuk membeli barang-barang yang sedang hits saat ini.

Baca juga : Perlukah Money Dates untuk Mengatur Keuangan Keluarga

Akibatnya, besar pasak dari pada tiang, pengeluaran lebih besar dibanding pemasukan. Parahnya lagi, adiksi FOMO ini bisa menyebabkan orang rela berutang. Menggunakan kartu kredit secara berlebih tanpa mengukur kemampuan membayar cicilan. Bila kondisi tersebut tidak dihentikan, bisa saja FOMO menjadi akut dan menyebabkan ketidakbahagian hidup karena terlilit utang konsumtif.


FOMO dan Investasi

Ternyata sindrom FOMO juga dapat menyerang para investor saham, khususnya para pemula. Para trader tidak bisa menahan emosi dalam aktivitas saham. Mereka lupa bahwa untung rugi dari aktivitas trading merupakan risiko yang harus ditanggung sendiri.

Para trader yang mengalami FOMO akan ditandai adanya rasa kecemasan karena merasa takut ketinggalan mendapatkan keuntungan. Mereka akhirnya mengambil keputusan yang terburu-buru untuk meraup keuntungan. Alasannya, merasa sayang kalau melewatkan keuntungan di dalam proses trading. Bisa dikatakan, FOMO menyebabkan trader melakukan aktivitas saham tanpa strategi dan taktik.

FOMO dan YOLO

Di generasi milenial, FOMO mungkin tidak sepopuler YOLO (You Only Live Once) yang juga masuk dalam kamus Oxford English Dictionary. Kata yang bisa dirtikan “hidup hanya sekali” ini sebenarnya memiliki makna yang sederhana. Kata ini diarahkan agar Anda bisa benar-benar membuat hidup lebih berharga, sehingga tidak menyesal esok hari.

Baca juga : Mengapa Penting Punya Pola Keuangan yang Sehat

Dalam kehidupan sehari-hari, YOLO pun banyak diungkapkan oleh generasi sekarang ini. Kedua istilah ini sejatinya duduk berdampingan. Namun berbeda dengan YOLO, FOMO tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, FOMO merupakan kondisi psikologis yang nyata dan wujud dari ketidakbahagiaan seseorang.

Memang tidak ada salahnya mengikuti tren yang ada saat ini. Namun, jika sampai terjebak dalam kehidupan gaya hidup orang lain dan memaksa mengikuti bisa menjadi sumber awal FOMO. Apalagi jika kondisi keuangan tidak mencukupi gaya hidup trendi. Dengan menjadi tahu sebab akibat serta dampaknya, cobalah untuk hidup dengan penuh kualitas sesuai kemampuan. Syukuri apapun yang Anda dapatkan dan manfaatkan untuk masa depan yang lebih baik.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Feb. 11, 2020, 3:35 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.