AAJI: Kondisi Gagal Bayar Polis Bukan Tolok Ukur Industri Asuransi Jiwa

AAJI: Kondisi Gagal Bayar Polis Bukan Tolok Ukur Industri Asuransi Jiwa

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyesalkan adanya kejadian gagal bayar polis asuransi jiwa yang belakangan ini banyak diperbicangkan. Sebagai asosiasi tunggal bagi perusahaan asuransi jiwa di Indonesia yang diakui berdasarkan Undang-Undang No. 40 tahun 2014 tentang Perasuransian, kejadian gagal bayar ini tidak dapat dijadikan tolok ukur mengenai kondisi asuransi jiwa secara menyuluruh.

Hal itu ditunjukkan dengan hasil kinerja perusahaan asuransi jiwa kuartal III 2019 yang bernaung di AAJI. Industri asuransi jiwa pada kuartal III 2019 mencatat kinerja peningkatan pembayaran manfaat asuransi jiwa yang cukup baik. Berikut ini peningkatan pembayaran manfaat asuransi jiwa di kuartal III 2018 dan kuartal III 2019.


Q3 2018

Q3 2019

Pertumbuhan

Total klaim dan manfaat yang dibayarkan

Rp88,82 Triliun

Rp104,30 triliun

17,4 persen

Akhir Kontrak

Rp13,76 Triliun

Rp17,01 triliun

23,6 persen

Meninggal Dunia

Rp6,86 Triliun

Rp7,20 triliun

4,9 persen

Nilai Tebus (Surrender)

Rp47,66 Triliun

Rp54,48 triliun

14,3 persen

Partial Withdrawal

Rp10,39 Triliun

Rp12,65 triliun

21,8 persen

Kesehatan (Medical)

Rp7,05 Triliun

Rp8,17 triliun

15,8 persen

Kesehatan Perorangan

Rp3,30 Triliun

Rp3,63 triliun

10,1 persen

Kesehatan Kumpulan

Rp3,76 Triliun

Rp4,54 triliun

20,8 persen

Lain-lain

Rp3,10 Triliun

Rp4,78 triliun

54,3 persen


Dengan mengacu pada data anggota per kuartal III tahun 2019, industri asuransi jiwa telah memberikan kontribusi yang signifikan kepada kesejahteraan masyarakat dan pembangunan Indonesia. Berikut aporan kinerja keuangan yang disampaikan oleh 59 anggota dari 60 anggota AAJI:

1. Sebanyak 62.581.600 orang telah memiliki perlindungan asuransi jiwa, meningkat sebesar 14,7 persen dibandingkan dengan kuartal III tahun 2018.

Baca juga : Mengenal Jenis, Kelebihan, dan Kekurangan Asuransi Jiwa

2. Total aset industri asuransi jiwa berjumlah Rp548,72 triliun, dengan dominasi dana investasi jangka panjang yang ditempatkan pada program pembangunan infrastruktur pemerintah mencapai Rp 481,40 triliun.

3. Kenaikan pembayaran total klaim dan manfaat sebesar 17,4 persen dibandingkan dengan kuartal III tahun 2018 dengan nilai pembayaran sebesar Rp104,30 triliun sebagaimana diuraikan pada tabel diatas.

4. Dari segi penciptaan lapangan kerja, sampai dengan kuartal 3 2019 terdapat 622.286 agen asuransi jiwa dan 21.493 karyawan yang bergantung pada industri asuransi jiwa dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarga.


Maka dari itu, adanya kondisi gagal bayar polis asuransi jiwa sangat disesalkan oleh AAJI. Pasalnya, Industri asuransi jiwa sebagai bagian dari industri jasa keuangan merupakan industri yang harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik, termasuk etika dalam berusaha. 

Baca juga : Ini 3 Jenis Asuransi Jiwa yang Tepat untuk Lansia

Pengawasan asuransi jiwa dilakukan secara berlapis, di mulai dari pengawasan dan pengendalian internal yang dilakukan oleh dewan komisaris sebagai organ perusahaan, auditor internal serta komite-komite di bawah direksi dan dewan komisaris perusahaan, sampai dengan pengawasan oleh regulator terkait.

AAJI menilai aspek perlindungan nasabah serta pelaksanaan program literasi dan inklusi keuangan juga diwajibkan oleh regulator dan harus dilaporkan secara berkala. Hal ini menjadi perhatian khusus pada industri asuransi jiwa yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat pemahaman produk dan jasa keuangan khususnya asuransi, serta untuk lebih meningkatkan pemberdayaan pemegang polis, tertanggung, atau peserta terutama untuk memahami dan memilih produk jasa keuangan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Jan. 23, 2020, 10:13 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.