Tingkat Rasio Kredit Bermasalah Amartha Mencapai 0,8 Persen

Tingkat Rasio Kredit Bermasalah Amartha Mencapai 0,8 Persen

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatatkan penyaluran pendanaan pada 2019 tumbuh hingga lebih dari dua kali lipat. Nilai akumulasi pendanaan mencapai Rp1,8 triliun dengan jumlah penerima pendanaan yang juga meningkat mencapai 380.000 mitra. Tingkat rasio kredit bermasalah (NPL) Amartha terjaga dengan nilai riil 0,8 persen.

Nilai NPL yang bisa di bawah 1 persen itu karena Amartha menerapkan tiga lapis mitigasi risiko kredit macet. Pertama, skema pendampingan langsung para Mitra Amartha oleh petugas lapangan Amartha (Business Partner Amartha) dalam pertemuan majelis mingguan.

Kedua penggunaan sistem kredit skoring dan teknologi machine learning yang dikhususkan untuk segmen usaha mikro di pedesaan. Ketiga adalah asuransi pendanaan bekerja sama dengan perusahaan penjamin kredit.

Baca juga : Pinjaman Online P2P Lending Harus Transparan dan Ramah Konsumen

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, pertumbuhan signifikan pendanaan Amartha di 2019 dipengaruhi oleh ekspansi Amartha ke sebagian wilayah Sulawesi seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, serta sebagian Sumatera seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Jambi.

Selain itu, meningkatnya kepercayaan dan antusias masyarakat pada Amartha, berdampak pada bertambahnya jumlah Pendana Amartha yang mencapai 100 ribu pengguna dari provinsi Aceh hingga Papua, dengan 3 provinsi pendana terbanyak dari DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

“Di 2020, Amartha menargetkan untuk meningkatkan penyaluran lebih dari yang sudah dicapai 2019. Selain itu, Amartha akan berfokus untuk terus berekspansi ke seluruh wilayah Indonesia, dengan menjaga pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” tambah pria yang akrab disapa Taufan.


Amartha sebagai pionir fintech P2P lending, berkomitmen untuk mengedepankan inovasi dengan meluncurkan berbagai produk dan program beyond lending untuk mitra dan pendana Amartha di 2020. Amartha akan merilis layanan keuangan digital tambahan bagi mitra Amartha. Serta berbagai produk investasi bagi pendana Amartha, bekerja sama dengan perusahaan aset manajemen dan perbankan, guna meningkatkan customer experience yang lebih baik.

Secara peizinan usaha, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah resmi memberikan izin usaha Perusahaan Penyelenggaraan Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi kepada PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) dengan nomor KEP-46/D.05/2019 dan berlaku secara permanen, tanpa batas waktu berakhir.

Baca juga : OJK Kembali Menemukan 125 Fintech P2P Lending Ilegal

Pemberian izin dari OJK menjadi bukti bahwa Amartha sangat serius untuk fokus dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. “Ini menjadi bukti bahwa kami benar-benar serius dalam memberdayakan ekonomi bawah dan bermain sesuai aturan dari OJK,” kata Taufan saat konferensi pers (16/5/2019).

Sebelumnya, Amartha sudah menjadi perusahaan fintech peer-to-peer (P2P) lending yang terdaftar sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dengan nomor registrasi S-2491/NB.111/2017 dan masuk dalam ruang uji coba (regulatory sandbox) di OJK sejak tahun 2017. 

Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, penyelenggara Inovasi Keuangan Digital (IKD) yang sudah terdaftar di OJK dapat mengajukan perizinan usaha untuk beroperasi secara permanen. Untuk memperoleh perizinan OJK, Amartha telah melakukan pengajuan paling lambat satu tahun setelah terdaftar di OJK.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Jan. 9, 2020, 9:46 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.