Ini Sebab Gagal Bayar Polis Asuransi Jiwasraya

Ini Sebab Gagal Bayar Polis Asuransi Jiwasraya

Ada persoalan besar yang membelit PT Asuransi Jiwasraya. Persoalan itu diakui oleh Presiden Joko Widodo merupakan masalah lama terkait penunggakan polis pembayaran nasabah Asuransi Jiwasraya. Setidaknya, sejak 10 tahun lalu, masalah ini sudah terindikasi dan terus menggelembung sampai saat ini.

Sebagaimana dikutip dari dari merdeka.com, Direktur Utama PT Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko menyatakan, pihaknya tidak memiliki kesanggupan untuk membayar polis yang jatuh tempo pada tahun ini. Nilai polis yang jatuh pada Oktober hingga November 2019 mencapai Rp 12,4 triliun. Sementara total tunggakan yang harus dibayarkan sebesar Rp16,3 triliun.

Baca juga : Remodeling Business, Jiwasraya Luncurkan Asuransi Demam Berdarah

Kondisi itu semakin diperparah, di mana PT Asuransi Jiwasraya tidak memiliki dana segar untuk membayar polis jatuh tempo tersebut. Hingga September 2019 perusahaan masih mengantongi kerugian sebesar Rp23 triliun. Masalah yang membelit Jiwasraya sudah diendus Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK bersama pemerintah dan Asuransi Jiwasraya telah mencoba beberapa cara untuk menyelamatkan perusahaan pelat merah tersebut.

Skema Penyelamatan Asuransi Jiwasraya

Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menyiapkan beberapa skema penyehatan Asuransi Jiwasraya ini. skema yang ditawakan mulai dari jalur hukum hingga perbaikan kinerja dan keuangan perusahaan asuransi ini.

Menurut Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga, upaya jalur hukum sudah ditempuh, di mana Kementerian BUMN telah membawa kasus Jiwasraya ini ke Kejaksaaan Agung (Kejagung). Pihak Kejagung pun telah masuk ke tahap penyidikan dan telah menemukan dugaan korupsi dengan nilai kerugian mencapai Rp12,4 triliun.


Sementara perbaikan dari sisi kinerja dan keuangan perusahaan, Jiwasraya telah membentuk anak usaha bernama Jiwasraya Putra. Anak usaha ini akan memanfaatkan jaringan dari BUMN lainnya untuk menjual produk. Jiwasraya Putra pun juga siap mendapat suntikan modal dari lima investor. Namun, Arya belum mau menjelaskan lebih detail siapa lima investor dan berapa dana yang akan disuntikkan.

Skema lainnya yang disiapkan Kementerian BUMN adalah dengan melakukan restrukturisasi utang. Langkah itu akan dilakukan dengan memilah utang yang jangka waktu pembayarannya bisa diperpanjang. Restrukturissi utang itu diharapkan bisa dipercepat untuk membayar ritel-ritel kecil dan dana pensiunan.

Kesalahan Asuransi Jiwasraya

Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan, permasalahan gagal bayar polis nasabah PT Asuransi Jiwasraya masih dalam sudah masuk tahap penyidikan dengan dugaan korupsi sebesar Rp12,4 triliun. Kejagung menduga ada penyimpangan dalam penjualan produk tersebut dan pemanfaatan hasilnya atas produk asuransi JS Saving Plan.

Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam konferensi pers mengatakan, kasus gagal bayar Asuransi Jiwasraya ini disebabkan karena perusahaan banyak melakukan investasi pada aset dengan risiko yang tinggi. Salah satunya penempatan 22,4 persen saham atau setara nilainya Rp5,7 triliun dari aset finansial.

Baca juga : 5 Hal yang Harus Dipertimbangkan Ketika Memilih Asuransi Kesehatan

Sayangnya, dari jumlah tersebut sebanyak 2 persen saham ditempatkan pada perusahaan yang punya kinerja bagus. Sementara 98 persennya di tempat pada saham yang kinerja perusahaan buruk. Istilah ini banyak disebut dengan saham “gorengan”. Saham “gorengan” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saham sebuah perusahaan yang naik turunnya terjadi secara tiba-tiba sehingga memiliki risiko investasi yang tinggi.

Kemudian, penempatan instrumen reksa dana sebanyak 59,1 persen atau senilai 14,9 triliun dari aset finansial. Hampir sama dengan saham, sebanyak 2 persen aset dikelola oleh Manajer Investasi Indonesia yang punya kinerja bagus. Sisanya, 98 persen dikelola oleh Manajer Investasi dengan kinerja buruk.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Dec. 20, 2019, 3:30 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.