5 Langkah Agar Terhindar Menjadi Generasi Sandwich

5 Langkah Agar Terhindar Menjadi Generasi Sandwich

Muncul istilah baru yang dalam dua tahun terakhir ini cukup banyak dibicarakan. Ya, generasi sandwich menjadi kosa kata baru yang populer terkait kehidupan finansial. Generasi sandwich ini merupakan bentuk kelemahan pengelolaan keuangan orangtua yang akhirnya berimbas pada kehidupan keuangan anak-anaknya.

Generasi ini bukan hanya harus berjuang menghidupi diri sendiri dan kehidupan keluarga kecilnya, tetapi juga diharuskan menanggung beban hidup generasi di atasnya seperti orangtua atau kerabat yang lebih tua. Generasi ini jelas melahirkan beban berat finansial bagi yang menanggungnya. Jika tidak diputus mata rantainya, maka kondisi sandwich bisa diwariskan turun temurun.

Baca juga : Siapa itu Generasi Sandwich? Ini Ciri dan Dampaknya

Lantas, bagaimana cara memutus mata rantai generasi sandwich ini? Tidak ada cara lain, langkah yang bisa diambil adalah mulai menata pola keuangan dan menyiapkan kebutuhan keuangan untuk masa tua seperti dana pensiun. Maka itu, penting bagi anak muda untuk dapat memutus lingkaran tersebut.

1. Siapkan Dana Pensiun

Mungkin Anda akan ditertawakan teman-teman jika berbicara soal pensiun? Namun, jangan pernah malu untuk mulai menyiapkannya. Justru menyiapkan dana pensiun sedari muda akan semakin menjamin masa tua yang lebih nyaman dan aman. Semakin dini Anda menyiapkan kebutuhan pensiun, maka usaha mengumpulkan dananya akan terasa semakin ringan.

Banyak ilustrasi untuk menggambarkan manfaat menyiapkan dana pensiun sedari muda. Misalnya, Anda saat ini berusia 25 tahun dan telah memiliki penghasilan bulanan. Anda punya rencana akan pensiun di usia 60 tahun. Itu artinya, Anda masih memiliki waktu sekitar 35 tahun untuk menyiapkan dana pensiun.


Bagaimana cara mengumpulkan dana pensiunnya? Banyak orang berpikir dengan cara menabung sudah cukup. Tidak salah, tetapi jika memperhatikan inflasi kenaikan gaya hidup yang rata-rata mencapai 10 persen per tahun, maka tabungan jelas tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Anda harus memiliki instrumen lain seperti investasi yang mampu memberikan keuntungan yang bisa menyeimbangkan nilai inflasi tersebut. Dengan memiliki bekal dana sendiri saat pensiun kelak, Anda tidak perlu lagi membebani anak-anak Anda kelak untuk membiayai masa tua. Rantai generasi sandwich pun bisa terputus.

2. Proteksi kesehatan

Ketika memasuki usia pensiun, risiko kesehatan akan semakin meningkat seiring kondisi tubuh yang kian menua. Di saat yang sama, kenaikan biaya kesehatan terbilang cukup kencang. Dalam hal ini, tidak sedikit generasi sandwich harus menanggung beban biaya kesehatan orangtua mereka dan itu membuat beban finansial anak semakin besar.

Langkah paling mudah harus dimulai dari diri sendiri seperti mulai membiasakan hidup sehat sehingga risiko sakit dimimalisir. Misalnya dengan rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, menghindari stres, dan pola tidur yang baik.

Baca juga : Keluarga Perlu Investasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Meski sudah menerapkan pola hidup sehat, risiko sakit bisa datang kapan saja. Sebagai antisipasi, Anda harus melengkapi kebutuhan dengan memiliki asuransi kesehatan. Membeli polis asuransi bisa dilakukan sebelum masa pensiun. Ada baiknya juga sedari muda sudah memproteksi diri dengan asuransi kesehatan.

3. Asuransi Jiwa

Selain asuransi kesehatan, asuransi jiwa juga menjadi salah satu jenis perlindungan yang harus dimiliki. Terlebih saat Anda sudah berkeluarga dan memiliki anak. Dengan memiliki asuransi jiwa, dampak finansial yang ditanggung oleh keluarga saat pencari nafkah meninggal dunia, bisa diperkecil. Uang pertanggungan yang akan keluar dari polis asuransi jiwa bisa menjadi bekal bagi keluarga yang ditinggalkan untuk melanjutkan hidup.

4. Bijak terhadap Utang


Godaan terbesar saat awal-awal berkarier dan memiliki penghasilan sendiri adalah pengelolaan keuangan yang tidak tertata. Terlebih saat ini sangat mudah sekali untuk mengajukan pinjaman. Salah satunya kartu kredit yang memberi kemudahan transkasi sampai utang-utang dengan nominal yang lebih besar.

Kondisi itu harus diwaspadai dan jangan sampai tergiur dengan kemudahan pinjaman yang ada. Sedari muda biasakan berhati-hati dalam memutuskan untuk berutang. Jika memang harus melakukan utang, gunakan untuk hal-hal yang produktif.

Baca juga : Generasi Boleh Milenial, Tapi Keuangan Jangan Bokek

Bagaimana dengan KPR? Untuk KPR, pilihlah tenor atau periode kredit yang tidak terlalu lama. Selain menghindari beban bunga yang lebih mahal, tenor yang terlalu lama bisa menganggu masa pensiun kelak. Batasi saja tenor pemilihan KPR, misalnya, maksimal 10 tahun atau 15 tahun dengan memiliki persiapan pelunasan lebih awal.

5. Pengelolaan Keuangan Sehat

Apa itu keuangan yang sehat? Founder ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie menjelaskan, agar tahu kondisi keuangan sehat atau tidak, setiap orang harus melakukan financial check-up. Bagaimana caranya? Anda cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, apakah punya utang, apakah pengeluaran lebih besar dari penghasilan, punya dana darurat tidak, dan apakah punya tabungan?

Jika utang sedikit, pengeluaran lebih kecil dari penghasilan, punya dana darurat, dan juga punya tabungan, maka kondisi keuangan Anda termasuk sehat. Apabila kondisi keuangan Anda tergolong sehat, Anda perlu membuat perencanaan keuangan yang baik. Langkah pertama adalah Anda harus tahu tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu, Anda bisa mulai dengan menghitung kebutuhan untuk mencapai tujuan atau mimpi tersebut.

Dengan lima langkah mudah di atas, Anda bisa mempersiapkan diri dengan baik agar di masa tua kelak tidak sampai menjadi beban finansial keluarga. Artinya, Anda termasuk orang yang memutus mata rantai generasi sandiwich untuk generasi penerus seperti anak-anak dan cucu Anda.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 26, 2019, 10:09 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.