Punya Hobi Jam Tangan, Pilih Buat Koleksi atau Investasi?

Punya Hobi Jam Tangan, Pilih Buat Koleksi atau Investasi?

Beberapa orang memiliki persepsi bahwa jam tangan bisa dijadikan barang investasi. Benarkah begitu? Sejak 2014, tren mengoleksi jam tangan mewah berkembang di kalangan menengah atas dari berbagai negara termasuk Indonesia. Jam tangan bukan hanya sebagai aksesori pendukung gaya hidup, tetapi juga menjadi unjuk status sosial. Tidak sedikit pula, kalangan menengah atas ini menjadikan jam tangan sebagai bentuk investasi.

Investasi jam tangan masuk dalam kategori investasi barang mewah (luxury goods) dan masih banyak orang mengetahui bahwa investasi jam tangan sangat menggiurkan. Sesuai dengan kategori barang mewah, investasi jam tangan adalah cara mempertahankan nilai yang terus meningkat.

Beberapa merek jam tangan memang layak dijadikan sebagai investasi. Sebut saja Rolex Cosmograph Daytona Chronograph Rainbow Diamond Black Dial Watch seharga Rp3,4 miliar, Richard Mille Red Carbon NTPT seharga Rp2,7 miliar, atau Omega Seamaster Chronograph Automatic Men's Watch yang harganya sekitar Rp91,7 juta.

Baca juga : Latte Factor Membuat Milenial Sulit Menabung dan Punya Rumah

Personil RAN Rayi mengakui beberapa merek jam tangan memang banyak dijadikan investasi. Namun baginya, jam tangan lebih pada fungsinya sebagai penunjuk waktu dan aksesori pendukung penampilan. “Bisa, tapi buat saya jam tangan itu memang untuk fungsi awalnya, buat penunjuk waktu. Sebagai musisi, jam tangan juga sebagai pelangkap penampilan saat manggung,” katanya di launching G-Shock GM-5600 di Beer Hall, SCBD, Jakarta (7/11/2019).

Dalam memilih jam tangan, pemilik nama lengkap Rayi Putra Rahardjo mengakui termasuk pencinta loyal pada merek G-Shock. Setidaknya, ada delapan koleksi jam G-Shock seri DW-5600 dan DW-5900. “Aku kalau pilih jam ini yang secara desain itu elegan, bahan materialnya kuat dan fungsinya juga lengkap. Jadi aku kalau pakai jam enggak pengen risih, takut rusak, takut kepentok,” tutur ayah satu anak ini.

Sementara itu, Marketing Manager Casio Jakarta Riry Silalahi menjelaskan, investasi jam tangan sah-sah saja dilakukan. Beberapa orang mungkin melakukan itu karena melihat ada peluang bisnis dalam jual beli jam tangan. “G-Shock bisa jadi investasi, semua barang bisa jadi investasi,” katanya.


Namun yang lebih penting adalah G-Shock lebih ingin mengajak orang-orang untuk merasakan experience dari produk-produk baru. “Kenapa karena dalam produk baru G-Shock akan selalu ada yang berbeda, mulai dari teknologinya, bahan materialnya, dan fiturnya. Itu yang ingin kami dorong agar semua orang bisa merasakan hal baru tersebut,” jelas Riry.

Riri tidak memungkiri beberapa seri G-Shock bisa dijual dengan harga yang lumayan tinggi. Namun, penggunaan jam tangan dalam waktu yang panjang juga bisa dikatakan investasi. Bahkan, menggunakan jam tangan yang asli bisa diwariskan ke anak dan itu juga bisa dikatakan investasi.

Jam Tangan untuk Investasi

Ada faktor yang harus diperhatikan jika memilih investasi di jam tangan. Salah satunya adalah jumlah jam tangan yang produksi atau limited edition. Keterbatasan produk menjadi peluang bagi kolektor untuk berburu produk bisa memiliki nilai tinggi di masa depan. Semakin terbatas produk di pasaran, semakin tinggi pula nilainya. Terlebih untuk jam tangan yang dianggap vintage, discontinued atau dari edisi khusus.

Faktor lain yang membuat jam tangan itu layak untuk dijadikan investasi adalah model, mesin dan nilai dari pemilik sebelumnya. Contohnya, jam tangan yang pernah dipakai oleh tokoh atau selebriti terkenal dunia biasanya memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Sebab, ada sejarah siapa pemakai sebelumnya.

Dalam seni dan ilmu mengenai pengukuran waktu serta penunjuk waktu atau horologi, jam tangan mekanik ternyata lebih diminati untuk investasi. Alasannya, jam tangan mekanik itu memiliki gerakan kuarsa atau quartz yang tidak dimiliki oleh jam tangan jenis digital.

Baca juga : Siapa itu Generasi Sandwich? Ini Ciri dan Dampaknya

Arloji quartz adalah salah satu yang mengukur waktu dengan cara dari sepotong kertas tipis kuarsa sintetis. Quartz bergetar sangat cepat dalam menanggapi muatan listrik, getaran inilah yang memungkinkan jam atau arloji untuk menjaga waktu agar konsisten. Jadi tidak mengherankan, jika Anda banyak melihat para kolektor atau investor jam tangan lebih banyak memilih jenis jam mekanik.

Mungkin Anda menemukan beberapa jam tangan kuarsa yang naik harganya dari waktu ke waktu. Namun, yang perlu Anda ketahui bahwa ada risiko dari investasi jam tangan ini karena investasi ini tidak bisa dijadikan sandaran untuk menghasilkan pendapatan tetap. Akan lebih baik, jika ingin investasi maka bermain di portofolio investasi lain seperti emas, saham, pasar modal, reksa dana atau obligasi.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 8, 2019, 11:39 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.