Diperingati Setiap 31 Oktober, Ini Kisah di Balik Hari Tabungan Sedunia

Diperingati Setiap 31 Oktober, Ini Kisah di Balik Hari Tabungan Sedunia

Tidak banyak orang yang tahu, kalau di tanggal ini diperingati sebagai Hari Tabungan Sedunia. Tepat di tanggal ini 31 Oktober 1924 di Milan, Italia, dalam hari terakhir Kongres Bank Tabungan Internasional pertama yang diselenggarakan oleh Bank Tabungan Internasional ini, Profesor Filippo Ravizza menyatakan hari ini sebagai Hari Penghematan Sedunia.

Dikutip dari laman IndiaCelebrating,com, dalam kongres tersebut diputuskan bahwa Hari Penghematan Sedunia adalah hari yang didedikasikan untuk mempromosikan penghematan di seluruh dunia. Hari Penghemaran Sedunia ini kemudian dirayakan untuk pertama kalinya pada 1925. Sebenarnya, Hari Penghematan Sedunia atau World Thrift Day pertama kali diperkenalkan sebagai perayaan dalam bentuk liburan pada 1921.

Baca juga : Peringati Hari Keuangan Nasional, Ini 4 Pahlawan dalam Sejarah Uang di Indonesia

Pada masa itu, menabung di banyak negara masih dianggap sebagai fase kematangan masyarakat dan negara. Menyimpan uang adalah hal penting untuk mendapatkan standar hidup yang lebih baik dan melestarikan ekonomi. Pengenalan Hari Penghematan Sedunia ini dilakukan melalui berbagai media mulai dari film pendidikan, penyiaran, nyanyian paduan suara, artikel pers, selebaran, brosur, poster, hingga kuliah.

Peringatan World Thrift Day ini sempat terhenti selama Perang Dunia I dan II. Setelah Perang Dunia II berakhir, Hari Penghematan Sedunia banyak diperingati antara tahun 1955 dan 1970. Bahkan perayaan ini seakan menjadi tradisi yang terus diperingati di banyak negara. Bahkan frugal education sangat populer di beberapa negara maju. Sebagian besar masyarakat di negara maju itu percaya pada penghematan uang dan tidak ada satu pun dari mereka yang tidak memiliki rekening bank.

Hari Tabungan Sedunia


Hari Penghematan Sedunia memang difokuskan pada negara-negara berkembang, di mana masih banyak orang yang tidak memliki rekening bank. Tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan menjadi salah satu kendala terbesar dalam menabung. Padahal, tabungan sangat penting untuk menghadapi masa-masa sulit kehidupan.

Tabungan akan sangat bermanfaat ketika ada permasalahan keuangan yang disebabkan sakit, berhenti bekerja, kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen, usia lanjut, atau kematian. Tabungan juga merupakan dasar untuk investasi dan untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan.

Kebiasaan menabung perlu ditanamkan pada anak-anak. Dengan menabung, anak-anak akan memiliki pengetahuan tentang keuntungan menabung dan membantu mengubah cara pandang mereka. Informasi tentang keuntungan menabung dalam kehidupan perlu disampaikan kepada anak-anak lewat lembaga pendidikan seperti sekolah.

Baca juga : Sejarah Rupiah dari Kelahiran Bank Indonesia Sampai Era Jokowi

Bank ritel dan bank tabungan juga mengambil peran dalam mendidik orang agar mau menabung. Salah satunya dengan memberi kemudahan untuk membuka rekening tabungan dan menyetor uang. Orang-orang juga diberi tahu tentang pentingnya memiliki rekening tabungan di bank.

India adalah salah satu negara di Asia yang merayakan Hari Tabungan Sedunia ini. Namun, peringatannya tidak dirayakan pada 31 Oktober melainkan 30 Oktober. Sebelumnya, itu dirayakan di India pada tanggal 31 Oktober tetapi sejak kematian Perdana Menteri India Indira Gandhi pada tanggal 31 Oktober 1984, Hari Penghematan Sedunia dirayakan pada tanggal 30 Oktober.

Hari Menabung Nasional


Sama dengan Hari Tabungan Sedunia, Indonesia juga memiliki peringatan yang serupa, yakni Hari Menabung Nasional. Namun, tanggal perayaannya berbeda, yaitu 20 Agustus. Tanggal itu diperingati setelah Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 20 Agustus sebagai Hari Menabung Nasional. Tujuannya adalah agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang gemar menabung.

Berdasarkan data World Bank, budaya menabung masyarakat Indonesia, khususnya remaja masih tergolong rendah. Rasio kepemilikan rekening pada penduduk Indonesia di atas 15 tahun pada tahun 2016 baru mencapai 48,9 persen. Padahal, potensi pelajar di Indonesia sangat besar mencapai 69,3 juta atau 25,8 persen dari total penduduk Indonesia.

Baca juga : Wajah Rupiah dari Gulden Hingga ORI

Maka dari itu, pemerintah membuat program tabungan khusus pelajar yang dinamakan Simpanan Pelajar atau SimPel yang diluncurkan pada tahun 2015. Hingga April 2019, tercatat sudah ada 304 bank yang menyediakan produk tabungan Simpel. Bank-bank tersebut terdiri dari 20 Bank Umum, 11 Bank Umum Syariah, 24 BPD, dan 249 BPR/BPRS.

Simpanan Pelajar (SimPel) dan SimPel iB adalah tabungan untuk siswa yang diterbitkan secara nasional oleh bank-bank di Indonesia, dengan persyaratan mudah dan sederhana serta fitur yang menarik, dalam rangka edukasi dan inklusi keuangan untuk mendorong budaya menabung sejak dini.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 31, 2019, 4:06 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.