Latte Factor Membuat Milenial Sulit Menabung dan Punya Rumah

Latte Factor Membuat Milenial Sulit Menabung dan Punya Rumah

Sesuai dengan namanya, latte factor mengambil dari kopi. Istilah ini dicetuskan oleh David Bach, seorang motivator sekaligus pengusaha yang sukses dengan buku berjudul Finish Rich. Bach mengungkapkan, latte factor ini biasa dilakukan orang-orang dalam menghabiskan penghasilan mereka dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari.

Istilah latte factor digunakan karena merujuk pada hobi banyak orang mengonsumsi kopi setiap hari dan ini sudah banyak dilakukan baik oleh anak muda hingga orang dewasa. Namun, sebenarnya latte factor tidak hanya sebatas kopi, tetapi lebih luas pada pengeluaran kecil lainnya yang tidak disadari seperti membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, biaya transfer antar bank hingga biaya top-up uang elektronik.

Baca juga : Mengenal Bahaya “Latte Factor” dalam Pengelolaan Keuangan

Bagi generasi milenial, membeli kopi dan bisa menjadi bagian gaya hidup instan. Terlebih saat ini, maraknya aplikasi online pengantar makanan semakin memanjakan gaya hidup tersebut. Memang nilai rupiah yang dikeluarkan setiap hari terbilang relatif kecil. Namun, jika pola konsumtif itu diakumulasi dalam sebulan, nilainya bisa lumayan besar. 

Latte factor memang lebih banyak menjangkiti kaum milenial, generasi yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi lalu diikuti semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gadget menjadikan mereka lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.

Latte factor bisa muncul dengan mudah hanya karena kebiasaan, tekanan sosial hingga kontrol diri yang lemah. Tanpa disadari latte factor menggerogoti penghasilan hingga sulit untuk menabung apalagi berinvestasi,” kata Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani.


Lalu, adakah kaitan dengan rendahnya minat kaum milenial untuk membeli properti? Sebagai bagian dari investasi jangka panjang, properti tampaknya belum tertanam dalam pola pikir maupun mindset generasi milenial bahwa tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi namun juga kebutuhan pokok.

Dengan banyaknya latte factor hingga faktor lainnya seperti tren traveling dengan tujuan eksplorasi berbagai tempat selagi muda semakin menjauhkan generasi milenial dari motif memiliki rumah. Berdasarkan house price to annual income ratio atau harga rumah berbanding pendapatan per tahun, harga properti yang sebaiknya dibeli maksimal tiga kali dari penghasilan tahunan.

Baca juga : Siapa itu Generasi Sandwich? Ini Ciri dan Dampaknya

Melihat hal tersebut, Johanna Gani menyarankan, untuk temukan apa saja latte factor dalam kehidupan Anda. Caranya dengan mulai mencatat pengeluaran harian sejak mulai beraktivitas dan telusuri apa saja pengeluaran yang tidak penting. Lalu lakukan efisiensi dan mulai fokus pada kebutuhan pokok untuk membentuk kondisi finansial yang lebih stabil.

“Apabila pengeluaran untuk latte factor ini bisa dikontrol dan diminimalisir, tentu ada potensi dana yang bisa ditabung untuk down payment properti impian atau diinvestasikan di instrumen lainnya,” ucap Johanna Gani.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 30, 2019, 10:05 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.