RDG Bank Indonesia: BI 7-Day Reverse Repo Rate Turun Menjadi 5 Persen

RDG Bank Indonesia: BI 7-Day Reverse Repo Rate Turun Menjadi 5 Persen

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5 persen. Selain BI 7-Day Reverse Repo Rate, BI juga menurunkan tingkat suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.

Baca juga : Ikuti BI, LPS Kembali Turunkan Suku Bunga Penjaminan Simpanan

Di bandingkan tahun lalu, sepanjang 2019 Bank Indonesia terbilang sukup sering mengambil kebijakan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate. Tecatat sejak Januari hingga Oktober 2019, BI sudah lima kali menurukan suku bunga masing-masing 25 bps. Berikut tren BI7DRR di sepanjang tahun ini:

• 24 Oktober 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5 persen (turun 25 BPS).

• 19 September 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,25 persen (turun 25 BPS).

• 22 Agustus 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,50 persen (turun 25 BPS).

• 18 Juli 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,75 persen (turun 25 BPS).

• 20 Juni 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate 6 persen (tetap).

• 16 Mei 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate 6 persen (tetap).

• 25 April 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate 6 persen (tetap).

• 21 Maret 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate 6 persen (tetap).

• 21 Februari 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate 6 persen (tetap).

• 17 Januari 2019, BI 7-Day Reverse Repo Rate 6 persen (tetap).

Investasi


Gubernur Bank Indonesia Perry Warjio menjelaskan, kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik. Penurunan BI rate ini juga sebagai langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Diakui Perry, perekonomian dunia yang belum kondusif memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik. Pertumbuhan ekspor sedikit membaik, meskipun masih mengalami kontraksi, di tengah permintaan global dan harga komoditas global yang menurun. Perbaikan ekspor antara lain dipengaruhi oleh beberapa produk ekspor manufaktur seperti ekspor kendaraan bermotor ke negara ASEAN dan ekspor emas yang tumbuh positif.

Baca juga : Survei Konsumen BI 2019: Minat Masyarakat Berinvestasi Meningkat

Hasil survei BI terkait investasi menunjukkan, investasi khususnya investasi non-bangunan pada triwulan IV 2019 kembali meningkat karena ditopang meningkatnya kenyakinan pelaku usaha. Sementara itu, pertumbuhan investasi bangunan cukup baik didorong oleh pembangunan proyek strategis nasional. Konsumsi rumah tangga tumbuh stabil didukung inflasi yang rendah dan bantuan sosial pemerintah.

“Ke depan, bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4 persen pada 2019 dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5 persen pada tahun 2020,” terang Perry.

Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar Rupiah menguat sejalan dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap baik. Pada Oktober 2019, Rupiah mencatat apresiasi 1,18 persen secara point to point dibandingkan pada akhir September 2019. Dengan perkembangan tersebut, Rupiah sejak awal tahun sampai dengan 23 Oktober 2019 tercatat menguat 2,50 persen.

Penguatan Rupiah didukung oleh aliran masuk modal asing yang tetap berlanjut dan bekerjanya mekanisme permintaan dan pasokan valas dari para pelaku usaha. Selain itu, ketidakpastian pasar keuangan global yang sedikit menurun turut memberikan sentimen positif terhadap Rupiah. Ke depan, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah tetap stabil sesuai dengan fundamentalnya dan mekanisme pasar yang terjaga.

Perbankan


Pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) terus berlanjut didukung kecukupan likuiditas perbankan yang memadai serta pasar uang yang stabil dan efisien. Rerata harian volume Pasar Bank Antar Bank (PUAB) pada September 2019 tetap tinggi sebesar Rp17,95 triliun. Likuiditas perbankan juga tetap baik, tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang besar yakni 19,47 persen pada Agustus 2019, tidak jauh berbeda dari kondisi Juli 2019 sebesar 19,66 persen.

Perkembangan ini memengaruhi penurunan suku bunga PUAB pada semua tenor. Rerata tertimbang suku bunga deposito juga menurun 13 bps dibandingkan Agustus 2019 sehingga tercatat 6,57 persen pada September 2019. Suku bunga kredit juga mulai menurun, terutama pada kredit investasi dan kredit modal kerja yang masing-masing tercatat sebesar 10,11 persen dan 10,33 persen.

Pembayaran Tunai dan Non-Tunai

Pertumbuhan Uang Tunai Yang Diedarkan (UYD) September 2019 tercatat 4,57 persen (yeay on year). Sementara transaksi pembayaran non-tunai menggunakan ATM debit, kartu kredit, dan uang elektronik (UE) posisi Agustus 2019 tumbuh 5,71 persen yang didominasi oleh instrumen ATM debit dengan pangsa 93,78 persen.

RDG Bank Indonesia ini juga menyebutkan, pertumbuhan transaksi uang eletronik Agustus 2019 tetap tinggi mencapai 230,25 persen (year on year) sejalan dengan preferensi masyarakat terhadap penggunaan uang digital yang terus menguat serta didukung integrasi uang elektronik dalam ekosistem digital yang meluas.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 25, 2019, 2:20 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.