OVO Resmi Jadi Unicorn Kelima di Indonesia

OVO Resmi Jadi Unicorn Kelima di Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu menebak-nebak startup mana yang akan menjadi unicorn kelima Indonesia, akhirnya terjawab sudah. OVO, startup besutan Grup Lippo telah resmi berstatus sebagai unicorn. Hal itu diketahui berdasarkan penilaian dari firma analis perusahaan CB Insight yang menyatakan, OVO memiliki valuasi sebesar USD2,9 miliar atau sekitar Rp 41 triliun.

Nilai valuasi itu sebenarnya sudah diungkapkan CB Insight sejak pertengahan Maret 2019. OVO dianggap sudah menjadi unicorn kelima di Indonesia karena sudah memiliki valuasi di atas USD 1 miliar. Sesuai dengan kategori umum untuk startup unicorn, valuasi yang dimiliki OVO secara otomatis menjadinya sebagai unicorn kelima di Indonesia.

Baca juga : Ini Dia Sosok Presiden Baru OVO

Bahkan, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara sudah memastikan bahwa penyedia dompet digital OVO sudah berstatus sebagai unicorn. “Saya sudah bicara dengan founder-nya dan memang iya. Makanya saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” kata Rudiantara seperti dikutip dari Antara (5/10/2019).

Kehadiran unicorn kelima di Indonesia ini sesuai dengan harapan dan keinginan pemerintah, di mana hingga akhir 2019 pemerintah menargetkan akan ada lima perusahaan startup yang berstatus unicorn. Sebelumnya, Indonesia sudah memiliki empat perusahaan startup, yaitu Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan Gojek.

Tidak hanya itu, Rudiantara mengungkapkan, tidak menutup kemungkinan munculnya startup yang akan menyusul menjadi unicorn sebelum tahun ini. Hal itu pernah diucapkannya bahwa akan ada startup berstatus unicorn yang bergerak di bidang fintech pendidikan.

Sekilas Tentang OVO


OVO merupakan aplikasi dompet digital yang dikembangkan oleh PT. Visionet Internasional yang berafiliasi dengan Lippo Group. Platform pembayaran digital ini pertama kali beroperasi pada November 2017.

Saat ini Lippo Grup merupakan pemegang saham utama OVO. Pada Mei tahun lalu, manajemen OVO mengumumkan suntikan modal sebesar US$120 juta dari Tokyo Century Corporation. CB Insights melaporkan investor lain OVO adalah Grab dan Tokopedia.

Dengan aplikasi ini, pengguna dapat melakukan deposit untuk melakukan berbagai transaksi pembayaran di berbagai merchant yang bekerja sama dengan OVO. Aplikasi OVO ini beroperasi dalam sistem platform, yaitu Android dan iOS. Dengan aplikasi yang tertanam di smartphone, berbagai aktivitas transaksi terkait kebutuhan bisa dilakukan secara cashless dan mobile payment.

Baca juga : Gojek Xcelerate, Program Akselerator untuk Bibit Unicorn Indonesia

Penggunaan OVO bisa menggunakan untuk kebutuhan transportasi, ritel, dan e-commerce. Bahkan untuk memperluas jaringan transaksinya, OVO bekerja sama dengan banyak merchant dan menggandeng Grab dan Tokopedia sebagai alat pembayaran.

Untuk memberi kemudahan, OVO juga telah bekerja sama dengan berbagai ritel untuk pembayaran menggunakan QR code. Hingga Maret 2019, OVO telah tersebar di 300 kota di Indonesia dan digunakan lebih dari 110 juta orang.

OVO membuat langkah baru dengan masuk ke toko offline dengan meningkatkan jumlah pedagang yang menggunakan metode pembayaran digital. Toko offline itu meliputi para pengecer lokal, pedagang, toko serba ada yang jumlahnya lebih dari 300.000 outlet pengecer bergabung dengan OVO di tahun ini.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 7, 2019, 4:08 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.