Kilas Balik Sejarah 21 Tahun Berdirinya Bank Mandiri

Kilas Balik Sejarah 21 Tahun Berdirinya Bank Mandiri

Di hari ini tepat 21 tahun lalu, Bank Mandiri berdiri. Pembentukan bank milik pemerintah ini didirikan pada 2 Oktober 1998. Kala itu, kondisi ekonomi Indonesia sedang mengalami krisis moneter sejak tahun 1997. Berbagai bank yang ada saat itu mengalami restrukturisasi bank, baik bank umum, swasta, ataupun pemerintah.

Bank Mandiri menjadi salah satu bank yang terkena restrukturisasi tersebut. Bersama empat bank lainnya, yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia digabungkan menjadi satu bank. Penggabungan atau merger empat bank tersebut dengan Bank Mandiri akhirnya dilakukan pada tanggal 31 Juli 1999.

Baca juga : Peluang dan Tantangan Perbankan di Era Digital Banking 4.0

Keempat bank yang bergabung dengan Bank Mandiri ini bukan bank kecil. Bank-bank tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang dan turut membentuk riwayat perbankan di Indonesia. Bahkan Bank Pembangunan Indonesia punya sejarah berdiri lebih dari dari 100 tahun lamanya.

Profil Empat Bank Gabungan


Berikut ini data lengkap mengenai empat bank yang tergabung dalam Bank Mandiri yang dirangkum duitologi.com dari berbagai sumber.

1. Bank Bumi Daya

Bank Bumi Daya merupakan salah satu bank yang didirikan pada masa penjajahan Belanda dengan nama De Nationale Handelsbank NV. Pada 1959, bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Umum Negara. Pada tahun 1964 Chartered Bank yang sebelumnya milik Inggris juga dinasionalisasikan dan diambil alih oleh Bank Umum Negara.

Kemudian pada 1965, Bank Umum Negara digabungkan dengan Bank Negara Indonesia dan diganti namanya menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV, dan kemudian, namanya beralih lagi menjadi Bank Bumi Daya.

2. Bank Dagang Negara

Sama dengan Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara juga merupakan salah satu bank tertua di Jakarta. Bank ini didirikan pada zaman Belanda dengan nama Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij pada 1857. Bank ini juga sempat berubah nama menjadi Escomptobank NV pada 1949 dan dinasionalisasikan menjadi Bank Dagang Negara pada 1960.

Baca juga : Mencari Titik Keseimbangan antara Fintech dan Perbankan

3. Bank Ekspor Impor Indonesia

Begitu pula dengan Bank Ekspor Impor Indonesia yang merupakan perusahaan dagang Belanda bernama N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirkan pada 1842 dan kemudian mengembang bisnis menjadi perbankan pada 1870.

Pada 1960, perusahaan ini diambil alih oleh pemerintah dan menjadi Bank Negara Indonesia Unit II pada 1965. Bank ini sempat dibagi dalam dua unit kerja, namun pada akhirnya disatukan kembali menjadi Bank Exim pada 1968 untuk membiayai kegiatan ekspor dan impor pemerintah.

4. Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo)

Berbeda dengan tiga bank di atas, pendirian Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) diawali dengan Bank Industri Negara (BIN) pada 1951. Bapindo dibentuk pada pada 1960 dan BIN kemudian dilebur ke dalam Bapindo. Sejak 1970, Bapindo bertugas membantu dalam pembangunan nasional dengan pembiayaan jangka menengah dan panjang pada sektor manufaktur, transportasi, dan pariwisata.

Proses Penggabungan Bank Mandiri


Proses penggabungan ini tentu mengakibatkan pengurangan pegawai hingga ribuan orang. Dalam banyak catatan, jumlah pengurangan pegawai mencapai 8.980 orang. Bukan cuma itu saja, penggabungan tersebut juga berdampak pada penutupan 194 unit cabang bank.

Selain itu, Bank Mandiri juga mewarisi 9 core banking system berbeda dari keempat bank yang digabung bersama. Setelah berinvestasi untuk melakukan konsolidasi awal dari sistem yang berbeda, Bank Mandiri selanjutnya melakukan program pergantian platform yang berjalan selama tiga tahun dengan investasi sebesar $200 juta.

Program pergantian platform ini difokuskan untuk kegiatan consumer banking dan meningkatkan kemampuan penetrasi di segmen retail banking. Pada sektor usaha, nasabah-nasabah Bank Mandiri kebanyakan bergerak di sektor yang sama seperti makanan, minuman, pertanian, konstruksi, kimia, dan tekstil.

Bank Mandiri Saat Ini

Perjalanan selama 21 tahun berdiri menjadikan Bank Mandiri sebagai salah satu bank milik pemerintah yang memiliki kinerja baik. Sejak didirikan, kinerja Bank Mandiri senantiasa mengalami perbaikan terlihat dari laba yang terus meningkat dari Rp1,18 triliun pada 2000 hingga mencapai Rp5,3 triliun pada 2004. Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana pada 14 Juli 2003 sebesar 20 persen atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham.

Baca juga : Cara Perbankan untuk Melawan Kejahatan Finansial

Konsistensi dalam pertumbuhan bisnis juga menunjukkan kinerja yang membaik dilihat dari pertumbuhan laba terakhir. Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp25,0 triliun pada akhir 2018 atau tumbuh 21,2 persen secara year on year (yoy). Kenaikan itu didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 5,28 persen menjadi Rp57,3 triliun dan kenaikan pendapatan atas jasa (fee based income) sebesar 20,1 persen menjadi Rp28,4 triliun.

Begitu pula dengan kinerja Bank Mandiri pada paruh pertama tahun 2019. Laba perseroan tercatat tumbuh 11,1 persen mencapai Rp13,5 triliun dengan kualitas kredit yang semakin membaik dengan NPL gross 2,59 persen atau turun 54 basis poin dari tahun lalu. pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan bisnis yang lebih sustain ditandai dengan pertumbuhan rata-rata kredit bank only 12,1 persen (yoy) atau mencapai Rp690,5 Trilliun pada Juni 2019.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 2, 2019, 4:12 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.