Apa Perbedaan LinkAja Syariah dengan LinkAja Konvensional?

Apa Perbedaan LinkAja Syariah dengan LinkAja Konvensional?

Setelah sukses meluncurkan aplikasi LinkAja pada akhir Juni 2019, PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) berencana akan meluncurkan LinkAja Syariah pada November mendatang. Pengembangan produk baru LinkAja Syariah ini dipastikan akan meluncur usai mendapat sertifikasi penyesuaian syariah dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Sertifikasi dari DSN MUI itu harus didapat karena menjadi syarat mutlak untuk mengajukan izin layanan baru LinkAja Syariah ke Bank Indonesia (BI). Sinyal perizinan dari BI pun sudah bisa dipastikan didapat sehingga LinkAja Syariah bisa diluncurkan pada November 2019.

Baca juga : Bayar PBB di Jakarta Bisa Pakai LinkAja, Begini Caranya

Selaku pengembang aplikasi LinkAja Syariah, Finarya menargetkan pengguna aplikasi ini bisa mencapai satu juta orang pada 2020. Hal itu dikatakan Group Head Sales & Syariah Unit LinkAja Widjayanto Djaenudin karena melihat potensi pengguna LinkAja saat ini yang sudah mencapai 30 juta orang.

Selain pengguna yang sudah ada, LinkAja Syariah juga menargetkan potensi pasar syariah lainnya, seperti perbankan yang mencapai 25 juta nasabah, karyawan bank syariah sebanyal 48 ribu orang, dan 4 juta santri dari 25 ribu pesantren di seluruh Indonesia.

Lantas, apa perbedaan LinkAja Syariah dengan LinkAja konvesional yang sudah ada saat ini? Chief Executive Officer (CEO) LinkAja Danu Wicaksana menjelaskan, ada tiga perbedaan antara LinkAja Syariah dan LinkAja konvesional. Pertama, dana yang mengendap (floating fund) di LinkAja Syariah akan ditaruh di Bank BUKU IV yang sudah bekerja sama dengan LinkAja.



Hal itu sesuai dengan aturan Bank Indonesia, di mana dana mengendap itu harus disimpan di Bank BUKU IV. Bank BUKU IV adalah kategori bank dengan modal inti di atas Rp30 triliun. Namun, saat ini belum ada bank syariah yang masuk dalam kategori Bank BUKU IV, sehingga floating fund di LinkAja Syariah akan disimpan di bank konvesional BUKU IV.

Kedua, perbedaan LinkAja Syariah dengan LinkAja kovensional bisa dilihat dari cara transaksinya. Sesuai aturan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), LinkAja Syariah akan menjalankan sistem transaksi yang tidak bertentangan dengan akad syariah.

Contohnya dalam hal pemberian potongan harga atau diskon dari transaksi harus diberikan oleh pihak merchant bukan dari pihak LinkAja. Pemberian diskon itu megacu pada salah satu opini dari Dr. Oni Syahroni yang mengatakan diskon diperbolehkan bila dilakukan oleh merchant.

Baca juga : Untung Rugi Menggunakan Uang Elektronik

Perbedaan ketiga antara LinkAja Syariah dan LinkAja konvesional, yaitu dari jenis produk yang ditawarkan. Pada LinkAja Syariah, produk seperti asuransi dan pinjaman akan disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.

Saat ini, ucap Danu, pihaknya tengah menjadi kerja sama dengan Kredit Pintar untuk layanan pinjaman bagi pengguna LinkAja konvesional. Untuk LinkAja Syariah, partner bisa diambil dari perusahaan jasa keuangan yang menerapkan prinsip syariah. Berbeda dengan partner dari LinkAja konvesional yang sudah ada.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 1, 2019, 11:50 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.