Ekosistem Digital, Cara Perusahaan Memenangkan Persaingan Bisnis

Ekosistem Digital, Cara Perusahaan Memenangkan Persaingan Bisnis

DBS Group Research dalam riset Pivot or Perish. Ecosystem, The Emerging Business Model yang dipublikasikan pada Januari 2019 menjelaskan, perusahaan-perusahan kini makin banyak yang bertransformasi menuju ke ekosistem digital, di mana ada kolaborasi teknologi informasi agar bisa tetap bertahan. Khususnya, industri-industri manufaktur dan layanan jasa tradisional offline.

Ekosistem dalam riset ini didefinsikan sebagai suatu penyatuan entitas industri yang berbeda-beda ke dalam satu organisasi baru. Organisasi baru ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya yang tidak akan dapat dilakukan oleh perusahaan atau sektor industri itu secara sendirian.

Baca juga : Menebak-nebak Siapa Unicorn Kelima di Indonesia?

Dengan membentuk ekosistem, pelaku pasar memiliki kemampuan untuk memenuhi apa yang paling diinginkan pelanggan. Sebab, seringkali yang terjadi adalah perusahaan justru tidak bisa mengetahui sepenuhnya kebutuhan pelanggan. Karena itu, kini perusahaan-perusahaan tradisional sudah mulai sadar untuk mengubah model bisnis agar tidak jatuh bangkrut.

Saat membangun ekosistem, data dari pihak pertama dan pihak kedua merupakan kunci keberhasilan. Hasil DBS Group Research ini menunjukkan, pemain besar tradisional di industri seperti perbankan dan layanan jasa keuangan, telekomunikasi, dan asuransi, dengan kemampuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data akan memiliki keuntungan yang berbeda.

Langkah Menuju Ekosistem Digital


Apa saja langkah-langkah yang diperlukan untuk memasuki ekosistem digital? Berikut uraian detail untuk menuju ekosistem digital.

1. Adopsi pola pikir ekosistem

Perusahaan harus memperbaiki visi dan sebagai pemimpin perusahaan. Cobalah untuk bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana kita dapat mengamankan apa yang kita miliki dan mengedepankan keunggulan dibandingkan dengan pesaing kita?”

2. Ikuti data

Di dunia tanpa batas ini, data tidak ubahnya seperti koin atau mata uang. Bersaing secara efektif berarti mengumpulkan data dalam jumlah besar dan mengembangkan kemampuan untuk menyimpan, memproses, dan menerjemahkan data ke dalam wawasan bisnis yang dapat ditindaklanjuti.

3. Membangun ikatan emosional dengan pelanggan

Anda harus terus bertanya, "Apa rencana kami untuk menggunakan data, konten, dan peralatan digital untuk terhubung secara emosional dengan pelanggan?" Pertanyaan berikutnya, "Apa lagi yang bisa kami sediakan dengan kesederhanaan dan kecepatan untuk memperkuat ikatan konsumen kami?"

4. Mengubah paradigma kemitraan

Mengingat peluang untuk melakukan spesialisasi yang diciptakan oleh ekonomi ekosistem, di mana perusahaan membutuhkan lebih banyak dan berbagai jenis mitra. Mulailah bertanya mitra seperti apa yang paling Anda butuhkan.

Evolusi Model Bisnis


Dalam riset ini juga disebutkan, model bisnis memang terus mengalami perubahan dan berevolusi. Jika pasca-perang dunia hingga 1980, model bisnis adalah konglomerasi dengan operasional lintas industri, maka di era 1980 sampai sekarang adalah perusahaan menjadi spesialis yang hanya fokus pada satu industri. Ke depan, dengan meningkatnya ekosistem kolaborasi, batas-batas sektor industri itu menjadi kabur.

Dengan mengadopsi infrastruktur cloud, perusahaan-perusahaan tradisional akan menjadi lebih gesit, karena dapat menyesuaikan infrastruktur teknologi informasi yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan. Selain itu juga akan memudahkan proses kolaborasi di dalam dan di luar perusahaan serta memudahkan operasional seluruh organisasi perusahaan secara real-time.

Baca juga : OJK Beri Angin Segar Bisnis Urun Dana

Dengan memanfaatkan potensi Internet of Things (IoT), data dapat dikumpulkan dan diproses dalam cloud. Lewat IoT, produk-produk fisik dapat terkoneksi dengan dunia online. Industri manufaktur dan layanan jasa tradisional memiliki akses data terhadap produk yang dihasilkan. Begitu pula pelanggan juga bisa membeli produk-produk tersebut melalui akses yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Hal inilah yang menjadi titik balik bagi para pemain lama di dunia offline. Sebab yang membedakan antara pemain lama offline dengan pemain baru berbasis online adalah akses data ini. Dengan memiliki akses beragam data itu, perusahaan-perusahaan tersebut punya kemampuan untuk menciptakan produk-produk yang memiliki nilai tambah.

Bahkan, perusahaan offline itu bisa membangun kemitraan lintas industri yang berbeda-beda. Dengan demikian, tercipta model ekosistem baru dari para perusahaan offline lama yang tadinya hanya menjalankan bisnis secara offline secara perlahan mengarah ke sistem online.

Riset Ekonomi Digital


Digital McKinsey Insights dalam publikasinya berjudul Winning in Digital Ecosystems pada 2018 menyebutkan, digitalisasi menyebabkan terjadinya perombakan radikal yang melampaui batas-batas industri tradisional. Dunia ekosistem digital akan menjadi model yang sangat berfokus ke pelanggan, di mana pengguna dapat menikmati pengalaman dari ujung ke ujung. Ekosistem akan terdiri dari beragam pemain yang menyediakan solusi multi-industri yang diakses secara digital.

Hubungan ekosistem ini pada gilirannya akan memungkinkan perusahaan memenuhi harapan pelanggan dengan lebih baik. Internet, kekuatan analisis data mutakhir, dan kematangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) membuat konsumen mendapatkan solusi terbaik, yang disampaikan hanya dalam hitungan milidetik.

Baca juga : Bagaimana Platform Digital Mengubah Masa Depan Indonesia?

McKinsey meyakini, pada 2025 akan ada pendapatan tahunan sekitar US$60 triliun yang terdistribusi ke seluruh dunia. Jumlah itu sepertiga dari total pendapatan perusahaan di dunia pada tahun itu. Dinamika ini terjadi di sektor teknologi tinggi, media, dan telekomunikasi, didukung oleh raksasa teknologi yang telah membangun platform yang menjalankan seluruh ekosistem.

Untuk memenuhi ekspektasi pelanggan yang cenderung terus meningkat, perusahaan memperluas jangkauan produk dan layanan tidak seperti sebelumnya. Para pengusaha juga membuat aliansi dengan perusahaan lain, bahkan dengan pesaing untuk menciptakan jaringan penawaran dan layanan yang saling melengkapi.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 30, 2019, 4:12 p.m.