Milenial Cerdas itu Harus Pandai Mengelola Keuangan

Milenial Cerdas itu Harus Pandai Mengelola Keuangan

Milenial adalah generasi yang tumbuh di zaman kemajuan komputer dan internet. Sentuhan digital mencakup kehidupan sehari-hari mereka. Meski hidup dalam kemudahan teknologi, generasi milenial ini justru punya literasi keuangan yang masih terbilang minim. Gaya hidup yang dinamis ditambah minimnya pengetahuan pengelolaan keuangan membuat mereka milenial merasa sulit untuk mengatur keuangan.

Padahal generasi milenial ini seharusnya akan lebih mudah untuk mempelajari sektor keuangan dengan cepat dan menerapkannya ke dalam kehidupan. Untuk berinvestasi, milenial cukup mengakses segala hal yang dibutuhkannya melalui internet di gadget mereka.

Untuk menjadi milenial yang cerdas keuangan, setidaknya ada tiga kemampuan yang harus dimiliki oleh generasi ini. Pertama, setiap milenial harus mampu menentukan tujuan keuangan masa depan. Caranya, dengan membuat tujuan keuangan jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Baca juga : Kenapa Banyak Anak Milenial Sudah Punya Cicilan Besar?

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara mengaku prihatin dengan cara pengelolaan keuangan milenial ini. Hasil survey OJK tiga tahun lalu, orang dewasa di Indonesia yang bergabung dalam dana pensiun hanya enam persen saja.

“Saya prihatin. Padahal milenial harus menabung agar aman di masa depan. Banyak sarananya, bisa emas, saham, reksa dana, properti. Beda sama dulu yang hanya ada Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional) dan Taska (Tabungan Asuransi Berjangka),” kata Tirta dalam acara Literasi Keuangan Goes to Campus di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta (16/9/2019).


Kedua adalah generasi milenial harus memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap produk jasa keuangan. Berdasarkan survei literasi keuangan, inklusi keuangan milenial relatif baik, namun sayangnya pemahaman terhadap produk keuangan yang masih rendah.

Ketiga adalah milenial harus belajar tentang disiplin keuangan. Hal ini terkait perilaku generasi milenial yang lebih mementingkan gaya hidup seperti traveling. Bahkan ada survei yang mengatakan, gaya hidup boros milenial diperkirakan membuat generasi ini semakin sulit membeli rumah di Jakarta.

Berdasarkan data Indonesia Millennial Report, sebanyak 51 persen uang milenial dihabiskan untuk keperluan konsumtif. Sedangkan sebesar 10,7 persen dana ditabung dan hanya 2 persen yang digunakan untuk investasi. “Maka dari itu, investasi bagi milenial itu penting agar punya passive income saat tua nanti,” terang Tirta.

Baca juga : SiMuda, Tabungan Berjangka untuk Milenial

Sebenarnya, pemerintah melalui OJK sudah menyediakan sarana agar milenial bisa terdorong menabung dan berinvestasi melalui Simpanan Mahasiswa dan Pemuda (SiMuda). Ada tiga jenis yang ditawarkan SiMuda, yaitu SiMuda InvestasiKu, SiMuda EmasKu, dan SiMuda RumahKu. Berdasarkan data terbaru OJK hingga Juni 2019, dari tujuh bank yang menyediakan tabungan SiMuda, jumlah tabungan sudah mencapai 11.052 rekening dengan nilai sebesar Rp12,4 miliar.

Kemajuan dan kedekatan teknologi seharusnya memberikan kemudahan bagi milenial untuk berinvestasi. Data OJK menyebutkan, jumlah investor di pasar modal per 30 Agustus 2019 ada 2,1 juta orang. Dari total itu, 860.000 atau 40 persen berasal dari usia muda. “Akses bagi milenial ke keuangan itu semakin mudah dengan adanya komputer, smartphone, dan jaringan internet saat ini. Jadi gampang kalau mau cari investasi,” ucap Tirta.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 17, 2019, 4:24 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.