Jejak BJ Habibie dalam Investasi Industri Dirgantara Indonesia

Jejak BJ Habibie dalam Investasi Industri Dirgantara Indonesia

Innalilillahi wa inna ilaihi rojiun. Indonesia berduka atas wafatnya Prof. Dr. Ing. BJ Habibie, seorang inisiator industri dirgantara Indonesia. Presiden Ketiga Republik Indonesia ini menghembuskan nafas terakhir di usia 83 tahun pada Rabu (11/9/2019) pukul 18.05 WIB.

Habibie wafat meningggalkan duka mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia. Bukan hanya sebagai negarawan, tetapi juga bagi industri dirgantara Indonesia. Beliau merupakan tokoh sentral bangkitnya industri penerbangan terutama dalam produksi pesawat terbang.

Jejak Habibie tercatat dalam sejarah pendirian PT Dirgantara Indonesia (Persero). Aktivitas kedirgantaraan di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1946 dengan dibentuknya Biro Rencana dan Konstruksi Pesawat di lingkungan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara di Madiun yang kemudian dipusatkan di Andir, Bandung. Tahun 1953.

Industri dirgantara ini semakin dikuatkan berdasarkan Akta Notaris No. 15, tanggal 24 April 1976 dengan mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, di mana Prof. Dr. Ing. BJ Habibie ditunjuk sebagai direktur utamanya.

Kala itu, PT Indonesia Pesawat Terbang Nurtanio adalah satu-satunya pabrik pesawat di Asia Tenggara. Pabrik itu kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 1985 hingga akhirnya kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.

Baca juga : Inspirasi Kesederhanaan BJ Habibie, Rumah pun Dicicil 20 Tahun

Selain sebagai pendiri dan penggagas dimulainya advance technology BPPT, beliau juga membuat terobosan production manufacturing plan yang melakukan assembly sampai mengintegrasikan dan mendesain sendiri pesawat terbang,

Pada 1976, Habibie mendirikan PT Indonesia Pesawat Terbang Nurtanio, satu-satunya pabrik pesawat di Asia Tenggara kala itu. Pabrik itu kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 1985 hingga akhirnya kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.


Selama memimpin PT Dirgantara Indonesia, Lulusan Universitas Teknologi Rhein Westfalen (RWTH) Aachen, Jerman ini berhasil mengkalkulasi keretakan pesawat karena proses terbang landas dan membantu rancang bangun desain pesawat modern buat menghindari kecelakaan. Hitung-hitungan Habibie sangat detail sampai ke tingkat atom material pesawat.

Salah satu karya Habibie yang paling menggeparkan pada era 1995 adalah keberhasilannya membuat pesawat penumpang N-250 yang berhasil terbang perdana dan disaksikan oleh Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto.

Karena kecerdasan merancang pesawat, Indonesia pada era 1990-an sudah mempu memproduksi pesawat komersil sendiri. Bahkan, Indonesia sudah mampu mengekspor pesawat buatan Habibie ke sejumlah negara seperti Qatar, Kuwait, Korea Selatan, Pakistan, Thailand, dan Filipina.

Jejak Karya BJ Habibie

Karya BJ Habibie dalam industri dirgantara Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Beliau sudah membuktikan dengan banyak pesawat komersil yang membanggakan bangsa dan dunia internasional. Berikut karya-karya BJ Habibie yang bikin bangga Indonesia dan internasional:

1. Pesawat N-250

Kecerdasan yang dimiliki Habibie berhasil menciptakan pesawat berbasis penumpang bernama N-250 versi Gatot Kaca pada masa pemerintahan Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto. Pada 1995, prototipe N-250 berhasil melakukan terbang perdana yang disaksikan Presiden Soeharto dengan mengangkut 50 penumpang. Keberhasilan itu dilanjutkan dengan membuat prototipe N-250 versi Krincing Wesi yang kapasitas penumpangnya lebih banyak sekitar 70 orang pada 1996.

Baca juga : Apa Dampak Pepindahan Ibu Kota terhadap Iklim Investasi?

2. Pesawat R80

Habibie yang dikenal sebagai Mr. Crack ini merancang pesawat penumpang dengan teknologi canggih dan tingkat keamanan, yaitu R80. Pesawat R80 dilengkapi dengan teknologi fly by wire yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah. Fly by wire adalah sebuah sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah.

Pesawat R80 dirancang oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI), sebuah perusahaan fokus pada bidang perancangan, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang. Perusahaan ini didirikan oleh BJ Habibie bersama putra sulungnya Ilham Akbar Habibie.

Pesawat N-250 dapat dikatakan sebagai cikal bakal pengembangan pesawat komersial lainnya. Salah satunya adalah R80 yang merupakan lanjutan dari pesawat N-250. Prototipe pesawat R80 ini mampu mengangkut sebanyak 80-90 penumpang ini pernah dipamerkan pada Bekraf Habibie Festival di JIExpo Kemayoran 2017.


3. Lockheed Martin C-130 Hercules

Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Pembangunan V ini tercatat terlibat dalam rancangan desain pesawat angkut militer Lockheed Martin C-130 Hercules. Model pesawat tempur ini merupakan pesawat bermesin empat turboprop sayap tinggi yang punya fungsi membantu tugas militer. Pesawat ini sanggup mengangkut berbagai macam kargo dan mampu mendarat di landasan terbatas.

4. Donier Do 31

BJ Habibie juga turut andil dalam terciptanya pesawat Donier Do 31, model pesawat jet transportasi eksperimental VTOL Jerman Barat yang dibangun oleh Dornier. Do 31 dirancang untuk memenuhi spesifikasi NATO (BMR-4) untuk pesawat dukungan taktis untuk pesawat strike serangan VTOL VJ EWR 101 dirancang di bawah kontrak NATO dari BMR-3.

Baca juga : Mengenal Gerakan Investasi Sambil Beramal dari IndoSterling Aset Manajemen

5. Karya Habibie Lainnya

Masih banyak keterilibatan Habibie dalam industri pesawat internasional. Pemikiran dan desainnya juga banyak dipakai dalam proyek rancang pesawat seperti Hansa Jet 320, Airbus A-300 yang mampu menampung 300 penumpang, CN-235, Helikopter BO-105, Multi Role Combat Aircraft (MRCA).

Kini, Bapak Dirgantara Indonesia Indonesia telah wafat. Indonesia sangat kehilangan sosok rendah hati, cerdas, jujur, dan mengabdi pada negara. Selamat jalan Bapak Prof. Dr. Ing. BJ Habibie. Jasa dan pengabdianmu akan selalu dikenang sepanjang masa.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 12, 2019, 11:44 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.