Saham dan Obligasi Rebound, Reksa Dana Bisa Menjadi Pilihan Investasi

Saham dan Obligasi Rebound, Reksa Dana Bisa Menjadi Pilihan Investasi

Pasar saham dan obligasi Indonesia rebound sepanjang bulan Juni 2019. Potensi ini semakin menguatkan bahwa emerging market terutama Indonesia masih menarik sebagai negara tujuan investasi para investor global. Kondisi ini terjadi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak gugatan sengketa Pemilihan Presiden 2019-2024. Terjaganya kondisi politik ini merupakan sentimen yang positif untuk kembali mengundang dana asing kembali masuk ke pasar investasi Indonesia.

Melihat hal tersebut, Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana untuk menjadi pilihan pertama untuk investasi khususnya reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap tergantung dari profil risiko dan jangka waktu investasi. Reksa dana saham secara historikal masih memberikan imbal hasil yang tertinggi dalam jangka panjang dibandingkan dengan reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap serta reksa dana campuran.

Baca juga : Ingin Investasi Saham, Kenali Dulu Keuntungan dan Risikonya

Sebagai pilihan, Bank Commonwealth sejak bulan lalu telah mendistribusikan investasi berupa instrumen reksa dana Sucorinvest Equity Fund. “Kami memutuskan memulai kerja sama dalam mendistribusikan reksa dana di bawah kelolaan Sucorinvest Asset Management yaitu Sucorinvest Equity Fund, di mana secara kinerja produk ini memberikan imbal hasil sebesar 79,27 persen dalam tiga tahun terakhir. Sementara tolok ukur IHSG memberikan imbal hasil sebesar 26,75 persen (data per Juni 2019),” kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya

Untuk melengkapi reksa dana saham Sucor, Bank Commonwealth juga mendistribusikan reksa dana Sucorinvest Money Market Fund. Instrumen investasi ini merupakan reksa dana pasar uang dengan dana kelolaan Rp2,35 triliun (data per akhir Juni 2019). Di antara kedua reksa dana tersebut dapat dilakukan switching.  Hal ini dapat mendukung nasabah yang ingin melakukan rebalancing agar hasil investasinya lebih optimal lagi.


Ivan menegaskan, pada bulan Juli ini investor akan fokus pada tiga hal, yakni perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Tiongkok terkait perang dagang, laporan keuangan kuartal-II 2019 yang menurut jadwal akan keluar di pertengahan Juli 2019 hingga pertengahan Agustus 2019, dan pertemuan bank sentral terkait penentuan suku bunga. Rencananya, Bank Indonesia (BI) akan bertemu pada 18 Juli dan The Fed dijadwalkan bertemu di akhir Juli.

Pergerakan Pasar Saham dan Obligasi

Pergerakan pasar saham dan obligasi sepanjang Juli 2019 menunjukkan tren rebound. Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama karena potensi imbal hasilnya yang lebih menarik dibandingkan reksa dana lainnya.

Selain dari selesainya Pilpres 2019-2024 pascaputusan MK, para investor melihat fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat. Fundamental yang kuat juga diperkuat dengan keputusan Standard & Poor's (S&P) sebagai lembaga peringkat hutang internasional, menaikkan peringkat hutang Indonesia satu tingkat ke “BBB” dan outlook stabil pada akhir bulan Mei 2019.

Baca juga : Apa Keuntungan dan Risiko Investasi Obligasi?

Faktor pendorong lainnya hasil pertemuan G20 yang berlangsung di Osaka, Jepang pada akhir Juni 2019. Pertemuan tersebut menghasilan kesepakatan Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat untuk kembali melanjutkan rancangan perjanjian dan juga menangguhkan tarif untuk sementara waktu. Sentimen positif juga datang dari The Fed yang membuka pintu untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam rangka mengurangi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akibat perang dagang.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 16, 2019, 3:09 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.