Mampukah Kebijakan Kemenkeu Dorong Investasi Apartemen Mewah?

Mampukah Kebijakan Kemenkeu Dorong Investasi Apartemen Mewah?

Pada bulan Juni 2019, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan mengeluarkan dua kebijakan terkait pajak barang mewah. Peraturan tersebut meliputi PMK Nomor 86/PMK.010/2019 tentang Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) dan PMK Nomor 92/PMK.03/2019 tentang Pajak Penghasilan Super Barang Mewah (PPh 22).

Dua peraturan tersebut memberi angin segar bagi industri properti khususnya residensial dan apartemen. Diharapkan kebijakan relaksasi pajak tersebut membuat iklim investasi properti untuk residensial dan apartemen mewah bisa bergairah.

Apa dampaknya terhadap properti residensial dan apartemen? Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menerangkan, peraturan PPnBM tersebut punya dampak besar pada properti residensial dengan kisaran harga antara Rp10 miliar hingga Rp30 miliar. Dalam peraturan baru, hanya apartemen dengan harga di atas Rp30 miliar yang diharuskan membayar pajak mewah 20 persen yang mahal.

Baca juga : Ini 4 Pilihan Investasi Properti yang Menguntungkan di 2019

Sementara kebijakan PPH 22, berdampak lebih luas pada lebih banyak segmen apartemen. “Tidak hanya karena ambang harga yang lebih tinggi tetapi juga karena jumlah pajak berkurang dari 5 persen menjadi 1 persen,” kata Ferry dalam paparan Jakarta, Surabaya, and Bali Properti Market Q2 2019 di World Trade Center (WTC), Jalan Jend. Sudirman, Jakarta (3/7/2019).

Berdasarkan data Colliers Internasional Indonesia, pengelompokkan apartemen bisa dilihat dari harga unit per meternya yang ditentukan atas beberapa faktor seperti lokasi, ukuran unit, fasilitas, dan jumlah unit per tower-nya. Pengelompokkan tersebut antara lain low (di bawah Rp18 juta per meter persegi), middle (Rp18 juta - Rp35 juta per meter persegi), upper (Rp36 juta - Rp55 juta per meter persegi), dan luxury (lebih dari Rp55 juta per meter persegi).


Melihat dua Peraturan Kementerian Keuanganan tersebut, Colliers International Indonesia percaya kebijakan relaksasi baru ini akan memberi sentimen pasar positif untuk pasar properti. Di sisi lain, peraturan baru tentang pajak barang mewah akan mendorong pengembang di segmen kelas atas dengan kisaran harga Rp10 miliar hingga Rp30 miliar untuk berkembang, meskipun segmen pasar terbatas.

Pergerakan Pasar Apartemen

Investasi apartemen masih melaju landai sampai saat ini. Kondisi tersebut disebabkan banyak faktor yang salah satunya adanya over supply. Berdasarkan data Colliers International Indonesia pada Q2 2019, selama enam bulan ini unit apartemen bertambah hingga 1.972. Secara total, pasokan apartemen hingga Q2 2019 mencapai 205.822 unit, atau naik 1 persen dari Q1 2019 dan 8,4 persen dari Q2 2018.

Tingkat serapan apartemen pada Q2 2019 secara rata-rata berada di level 87 persen, hampir sama dengan kuartal lalu. “Sementara, tingkat serapan apartemen hingga akhir 2019 diperkirakan tidak akan bergerak banyak, masih di level 86-87 persen,” terang Ferry.

Baca juga : Keuntungan yang Bisa Anda Peroleh dari Investasi Apartemen

Ferry juga memperkirakan, pasar properti apartemen bisa kembali aktif mulai 2020, pada saat pemerintahan baru terbentuk. Permintaan mungkin berasal dari hasil dana repatriasi (proses pengalihan harta dari luar negeri ke dalam Indonesia) yang akan “bebas” akhir tahun ini. Di samping itu, relaksasi pajak barang mewah akan membuat permintaan apartemen kelas atas meningkat. “Tingkat serapan apartemen, kami perkirakan akan berada di level 87-89 persen selama 2020-2023,” jelasnya. 


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 5, 2019, 3:49 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.