Tidak Perlu Takut, Siapkan Bekal Menyambut Masa Lansia

Tidak Perlu Takut, Siapkan Bekal Menyambut Masa Lansia

Menjadi tua adalah sebuah kepastian. Meskipun saat ini sudah banyak produk anti penuaan agar tampilan fisik tetap kelihatan muda, penambahan usia tetap akan terus berjalan. Menjadi lansia acap kali merupakan hal yang mengkhawatirkan banyak orang di kota-kota besar seperti Jakarta.

Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak orang takut menjadi lansia? Pandangan umum mengenai kondisi menjadi tua berkonotasi dengan berkurangnya kemampuan fisik, kesepian, tidak punya teman, ada penurunan daya pikir, finansial, kesehatan, ataupun aspek lainnya.

Baca juga: 9 Kesalahan Pengelolaan Keuangan yang Harus Dihindari di Usia 40-an

Hasil riset Karl Pillemer, Ph.D, seorang Profesor Gerontologi (ilmu psikologi tentang lanjut usia) dari Weill Cornell Medical College, New York, Amerika Serikat pada 2011 menyebutkan banyak orang merasa takut menghadapi masa lansia. Bayangan penurunan kemampuan fisik dan kesulitan finansial menjadi gambaran buruk saat menghadapi masa lansia.

Padahal, menurut Karl Pillemer, untuk menjalani kehidupan yang ”penuh dan kaya”, setiap orang justru harus meningkatkan kesadaran terhadap penuaan yang akan terjadi. Penyangkalan justru merupakan musuh terburuk yang akan memunculkan kegagalan merencanakan kehidupan nanti dan secara sia-sia takut pada masa depan negatif yang mungkin tidak pernah terjadi.

Perusahaan penyedia jasa kesehatan Cigna Corporation merilis hasil survei global Skor Kesejahteraan 360 yang dilakukan di 22 negara pada awal 2019. Survei dengan 13.200 responden itu merupakan survei tahunan Cigna yang menggunakan tolok ukur utama, yakni fisik, keluarga, sosial, keuangan, dan pekerjaan.


Survei tersebut menunjukkan, masyarakat Indonesia memiliki waktu yang cukup singkat dalam mempersiapkan lansia. Hal itu didasarkan pada jawaban mayoritas responden yang menyebut batas lansia adalah 57 tahun. Indonesia menjadi negara negara dengan jawaban lansia terendah, di mana jawaban rata-rata responden di 22 negara menyebutkan lansia mulai 63 tahun.

Meski begitu, sebanyak 64 persen responden masyarakat Indonesia ternyata telah memiliki kesiapan secara finansial menghadapi lansia. Angka ini lebih tinggi responden global yang hanya 38 persen menyatakan siap dengan hari lansianya.

Baca juga: Berapa Dana Pensiun yang Dibutuhkan? Ini Simulasinya

Sementara itu, hampir 80 persen masyarakat di Indonesia siap menyambut lansia yang aktif dan sehat. Tidak hanya siap secara fisik, 87 persen masyarakat Indonesia juga sudah merasa siap secara mental dalam menghadapi lansia.

“Lebih dari setengah masyarakat Indonesia ingin terus bekerja di lansia karena beragam alasan. Salah satunya agar tetap up-to-date dengan kondisi terkini, ingin tetap sibuk, ingin memberikan panduan, dan nasihat kepada pekerja yang lebih muda,” ungkap Chief Marketing and Strategic Partnership Officer Cigna Indonesia Akhiz Nasution dalam siaran pers yang diterima duitologi.com, (29/3/2019).

Menurut survey Cigna ini, para pekerja muda pun menyambut antusias untuk bekerja bersama generasi yang lebih lansia. Sebanyak 69 persen dari responden usia muda menyatakan, pekerja muda bersedia bekerja bersama generasi yang lebih lansia. 


Kondisi di Indonesia justru kebalikan di negara lain yang disurvei. Faktanya menunjukkan, hanya 1 dari 3 perusahaan yang berkenan untuk mempekerjakan generasi yang lebih lansia. Namun, di Indonesia lebih dari setengah perusahaan justru bersedia mempekerjakan usia tua. “Ini sebuah fakta yang cukup positif mengingat perekonomian negara bisa terbantu dengan banyaknya masyarakat lansia yang sehat dan ingin tetap memberikan kontribusi,” tambah Akhiz.

Baca juga: Cara Terbaik untuk Mengelola Dana Pensiun

Secara keuangan, masyarakat Indonesia juga semakin percaya diri. Hal itu dilihat dari kemampuan membayar kebutuhan edukasi keluarga. Selain itu, semakin banyak masyarakat Indonesia yang merasa puas dengan paket gaji dan kompensasi dari tempatnya bekerja, meskipun hal tersebut harus dibayar dengan bertambahnya tanggung jawab di kantor.

Sebanyak 76 persen responden masyarakat Indonesia mengungkapkan, kantor menyediakan fasilitas dan program-program kesejahteraan seperti klub kesehatan, olahraga, kelas sharing, dan lain-lain. Angka ini cukup tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya sebesar 46 persen.

“Hampir setengah responden atau 48 persen juga mengungkapkan bahwa kantor mereka menyediakan sarana dan dukungan untuk mengurangi stres yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya 28 persen,” terang Akhiz.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
April 4, 2019, 2:35 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.