Bagaimana Tips Melepaskan Diri dari Hedonic Treadmill?

Bagaimana Tips Melepaskan Diri dari Hedonic Treadmill?

Ada pepatah “Besar pasak daripada tiang” yang sering diartikan lebih besar pengeluaran dibanding pemasukan. Setiap bulan gaji diterima selalu tidak pernah tersisa. Bahkan selalu saja kurang meskipun haji sudah mengalami kenaikan. Jika itu yang sering dirasakan bisa saja Anda mengalami kondisi hedonic treadmill.

Apa itu hedonic treadmill? Menurut laman investopedia.com, hedonic treadmill merupakan kecenderungan seseorang untuk tetap berada pada tingkat kebahagiaan yang relatif stabil meskipun ada perubahan nasib atau pencapaian tujuan-tujuan utama.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonic treadmill erat kaitannya dengan kata hedonism, yaitu sebuah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Baca juga: Mengenal Bahaya “Latte Factor” dalam Pengelolaan Keuangan

Hedonic treadmill digambarkan, seseorang dengan penghasilan rendah akan berusaha keras untuk membelanjakan uangnya pada hal-hal yang lebih prioritas atau lebih kepada realita kebutuhan. Namun, di saat kemampuan finansialnya meningkat, maka kecenderungan untuk membedakan antara keinginan dengan kebutuhan secara perlahan mulai menipis. Sebagai contoh, saat gaji Rp6.000.000 tidak ada uang yang tersisa. Anggapan yang muncul, gaji yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Namun, saat gaji mengalami kenaikan menjadi Rp10.000.000 ternyata tetap saja habis dan tidak tersisa.

Kalau kondisi tersebut Anda dibiarkan secara terus menerus, tentu dampaknya tidak baik dan akan merusak keuangan di masa depan. Pola keuangan menjadi tidak sehat, sehingga bisa dipastikan Anda tidak akan memiliki dana darurat, tabungan, atau mampu berinvestasi. Jika itu yang yang terjadi, maka katakan selamat tinggal masa depan yang cerah dan kehidupan mapan secara finansial.


Tips Menghindari Hedonic Treadmill

Bagaimana cara melepaskan diri dari hedonic treadmill ini? Seperti seringkali dibahas di duitologi.com, tidak ada cara lain selain menerapkan “diet ketat” untuk memenuhi hasrat konsumtif dan mendasarkan segala sesuatu pada kebutuhan.

1. Susun pola keuangan

Pola keuangan yang bisa diterapkan, yaitu 50:30:20, di mana 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keperluan pribadi, dan 20 persen untuk dana dana darurat, tabungan atau investasi. Dengan pola tersebut diharapkan bisa membantu menjaga keuangan tetap berada dalam kondisi yang baik dan setiap pengeluaran menjadi tepat guna.

2. Buat rekening sendiri untuk dana darurat

Porsi dana darurat, tabungan, atau investasi harus dialokasikan dalam rekening tersendiri. Jangan disatukan dengan rekening kebutuhan pokok atau keperluan pribadi. Selain agar tidak mudah menghitungnya, pemisahan rekening ini juga bisa mencegah Anda menggunakan dana tersebut dan menghindari kembali kondisi hedonic treadmill.

Baca juga: 4 Langkah Menangani Kesalahan Pengelolaan Keuangan

3. Buat rencana pengeluaran

Cobalah setiap bulan membuat daftar pengeluaran apa saja yang akan dibeli, terutama untuk keperluan pribadi. Dengan membuat daftar atau list, pengeluaran akan lebih terkendali dan terarah. Terpenting, bukan berarti porsi keuangan untuk kebutuhan pokok dan keperluan pribadi harus dihabiskan. Akan lebih baik ada sisanya dan dialih ke dana darurat dan tabungan. 

4. Jangan tergiur diskon besar

Memang ada yang menyarankan untuk menghindari hedonic treadmill bisa dengan membeli kebutuhan saat ada promo. Tidak salah karena memang akan lebih hemat. Namun, harga barang diskonan tersebut bisa menggoda untuk membeli barang-barang yang hanya memuaskan keinginan, tentu ini bisa berdampak buruk. Belilah barang-barang diskonan yang sesuai kebutuhan dan sudah masuk daftar yang Anda buat setiap bulan.

Sebenarnya, banyak cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menghidari hedonic treadmill. Cara-cara yang dijelaskan di atas adalah cara paling mudah dan dianggap tidak memberatkan kehidupan bulanan Anda. Mudah-mudahan penjelasan mengenai hedonic treadmill di atas bermanfaat dan Anda bisa hidup mapan secara finansial. 


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
March 27, 2019, 3:56 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.