Jangan Salah Memilih Perusahaan Pengelola Dana Pensiun

Jangan Salah Memilih Perusahaan Pengelola Dana Pensiun

Selain pengelola dana pensiun dari perusahaan dan BPJS Ketenagakerjaan, ada lembaga atau perusahaan yang bisa melakukan pengelolaan dana pensiun. Dana yang dikelola perusahaan tersebut termasuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sesuai dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.

Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) ini dibuat oleh lembaga keuangan penyelenggara program pengelolaan dana pensiun, baik untuk pemberi kerja ataupun pekerjaan secara mandiri yang terpisah dari dana pensiun pemberi kerja.

Namun, untuk memilih perusahaan pengelola dana pensiun juga harus berhati-hati. Jangan sampai dana pensiun yang Anda setorkan disalahgunakan. Mengenai hal itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan menggunakan jasa perusahaan pengelola dana pensiun.

Baca juga: Tips Menghindari Masalah Keuangan di Masa Tua Sejak Usia 30-an

Direktur Indosterling Aset Manajemen Fitzgerald Stevan Purba mengatakan, ada dua hal utama yang harus diperhatikan dalam memilih perusahaan pengelola dana pensiun. Pertama, pastikan bahwa perusahaan pengelola dana pensiun tersebut terdaftar Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, teliti pula apakah perusahaan tersebut juga tergabung dalam organisasi profesi perusahaan dana pensiun.

Pasalnya, perusahaan yang sudah terdaftar di OJK tersebut harus patuh dan tunduk pada peraturan yang dibuat oleh OJK. Secara organisasi, perusahaan yang tergabung dalam asosiasi atau himpunan perusahaan dana pensiun juga harus menerapkan standarisasi, tata kelola maupun kode etik yang ditetapkan organisasi tersebut.

Kedua adalah kinerja perusahaan yang bisa dilihat dari perkembangan pelaporan setiap tahunnya. Bila tidak sesuai dengan perkembangannya maka sebaiknya tidak menginvestasikan ke perusahaan tersebut. “Peserta dana pensiun harus membandingkan pertumbuhan dana pensiun yang dimiliki dengan tingkat pengembalian yang dihasilkan pasar. Jika tidak sesuai, maka mungkin saja biaya Manajer Investasi (MI) yang terlalu besar atau pengelolaannya sendiri tidak perform [sesuai pasar],” ucap Stevan.


Sementara itu, dikutip dari laman sikapiuangmu.ojk.go.id (12/2/2019), ada 25 lembaga baik bank maupun asuransi yang menyiapkan instrumen untuk keperluan pensiun. Mekanismenya juga relatif mudah, bisa pribadi maupun melalui perusahaan. Pembayaran iuran pun dapat melalui potong gaji atau potong rekening secara otomatis.

Baca juga: Berapa Banyak yang Harus Disisihkan untuk Dana Pensiun?

Untuk memilih lembaga DPLK, beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Peserta harus mempertimbangkan sendiri model kebutuhan pensiunnya. Iuran dan produk dapat menyesuaikan dengan target yang dituju. Jika sumber penghasilan pensiun satu-satunya adalah dana di DPLK, tentu tidak disarankan ditempatkan pada instrumen yang rentan fluktuasi.

2. Melihat seberapa jauh peserta bebas menempatkan dananya atau mengubah pilihan investasi? Adapun untuk jenis investasinya sendiri, DPLK biasanya menempatkan pada instrumen saham, surat utang negara, deposito hingga reksa dana. Pilihan penempatan lainnya yakni instrumen syariah.

3. Peserta harus mengetahui seluruh informasi yang disediakan. Tidak perlu ragu menanyakan segala sesuatunya. Termasuk kemungkinan keberlanjutan program di tengah jalan jika tiba-tiba perusahaan tutup.

4. Peserta wajib mengetahui dengan pasti apa saja manfaat pensiun yang akan diterimanya kelak. Jangan sampai waktu dan dana yang ditempatkan justru tidak mencukupi kebutuhan peserta.

Baca juga: Cara Mencapai Target Keuangan Sesuai Jenjang Usia

Meski pengelolaan dana pensiun sudah dijalankan pada perusahaan yang baik, sewajarnya peserta mau ikut melakukan pemantauan terhadap kinerja perusahaan tempat dananya disimpan dan dikelola. Dengan begitu, hari tua bisa bahagia, mandiri, dan sejahtera berkat dana pensiun.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Feb. 21, 2019, 9:47 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.