Jangan Sepelekan Uang Logam

Jangan Sepelekan Uang Logam

Uang logam selama bertahun-tahun menjadi mata uang yang termarginalkan. Kalah pamor dengan uang kertas yang nilainya jauh lebih besar. Padahal peranan uang koin cukup signifikan. Sampai-sampai ada candaan dalam masyarakat “Uang Rp1 juta tak akan jadi sempurna kalau tak ada pecahan Rp25.” Kenyataan di lapangan berkata lain, peredaran uang koin di masyarakat cenderung tersendat.

 

Padahal memang benar, uang logam pun kalau dikumpulkan sedikit demi sedikit, lama-lama bisa menjadi bukit alias nilainya pun lumayan. Sayangnya Anda dan banyak orang lain bisa membuang uang logam begitu saja dengan alasan bikin berat kantong dan dompet. Pakar keuangan menilai kebiasaan memandang rendah pada uang yang nilainya relatif kecil ini sebagai kebocoran finansial.


Baca juga: Mengenal Bahaya “Latte Factor” dalam Pengelolaan Keuangan

 

Kepedulian seseorang pada aliran dana yang dimilikinya secara detail menandakan gaya hidup finansial yang sehat. Sama seperti membuang uang logam, lima hal berikut juga membuat kebocoran finansial yang signifikan pada keuangan Anda. Agar tidak ada lagi kebocoran finansial, pelajari lima poin saran dari pakar berikut:



 

1. Tidak Peduli Dengan Kesalahan Pengeluaran Anda Buat Sendiri

Anda sudah terdaftar sebagai member di salah satu gym. Coba lirik kembali, di bulan ini baru berapa kali Anda memanfaatkan status membership tersebut atau baru berapa kali Anda datang ke gym. Ketimbang menghamburkan uang membership gym yang hampir tidak pernah Anda datangi, bukankah sebaiknya Anda jadikan sedikit sudut rumah Anda sebagai lahan mini gym. Bahkan sudut ini bisa lebih sering Anda gunakan.

 

2. Membiarkan Pendingin Ruangan Menyala Tanpa Penghuni

Jangan lagi ikut campur atau mengomentari kebijakan kenaikan tarif listriknya pemerintah jika Anda sendiri bertingkah seperti ini. Coba gunakan berbagai peralatan elektronik di rumah Anda seefektif dan seefisien mungkin karena pada akhirnya, Anda akan rasakan sendiri betapa drastisnya penghematan tarif listrik bulanan.

 

3. Menghabiskan Uang Lebih Banyak Untuk Mobil Tua

Apakah Anda memang penggemar mobil klasik? JIka iya, poin ini tidak berlaku untuk Anda. Poin ini khusus mengarah pada orang yang bertahan memberdayakan barang tua dengan alasan penghematan padahal tidak demikian kenyataannya. Bertahan dengan kendaraan tua bisa menjadi wujud nyata dari kebocoran finansial. Karena dana yang Anda habiskan untuk bahan bakar, pemeliharaan, hingga suku cadang membutuhkan duit yang lebih besar ketimbang nilai dari kendaraan tua itu sendiri.

 

4. Membayar Terlalu Banyak Untuk Asuransi Kendaraan

Bicara soal coverage asuransi, masih banyak yang tertarik pada perlindungan yang tidak penting tanpa ada pertimbangan matang sebelum memilih asuransi. Pilih saja perlindungan yang semestinya perlu untuk Anda, sesuai berdasarkan spesifikasi kendaraan, penggunaan, umur, hingga pengoperasian.

 

5. Tidak Menggabungkan Produk Asuransi

Tahukah Anda bahwa membundling asuransi rumah dan kendaraan Anda dalam satu perusahaan penyedia jasa asuransi bisa menghemat biaya premi tahunan sampai 25 persen? Kalau sudah tahu, kenapa tidak Anda lakukan bundling itu sekarang?


Baca juga: Masih Muda, Bukan Berarti Bisa Hidup Boros


Kejelian Anda dalam melihat efektifitas pemanfaatan keuangan meski dalam nilai relatif kecil justru bisa menambal kebocoran finansial yang bisa saja selama ini sudah Anda derita. Masalahnya, kebocoran ini tidak pernah Anda sadari karena begitu tidak bernilainya uang logam yang Anda buang. Padahal, saat uang logam itu bersatu, mereka juga memiliki kekuatan besar.


Rooslain Wiharyanti
rooslain
Feb. 20, 2019, 10:35 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.