Mudahkan Investasi Nasabah, Commonwealth Luncurkan CommBank SmartWealth

Mudahkan Investasi Nasabah, Commonwealth Luncurkan CommBank SmartWealth

Dalam membantu para nasabah mengantisipasi dampak dari perubahan kondisi ekonomi khususnya kondisi pasar dan mengoptimalkan investasi mereka, Bank Commonwealth mengeluarkan inovasi terbarunya di awal tahun ini dengan meluncurkan aplikasi CommBank SmartWealth. Aplikasi ini merupakan yang pertama di Indonesia yang berfokus pada solusi wealth management secara komprehensif (The first comprehensive Wealth Management application in the market).

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya menjelaskan aplikasi CommBank SmartWealth menjadi solusi keuangan digital yang memudahkan nasabah memonitor pertumbuhan seluruh portofolio produk wealth management. “Portfolio itu mencakup produk investasi seperti seperti reksadana dan obligasi (bonds), asuransi (bancassurance), dan tabungan serta deposito kapan saja dan di mana saja,” kata Ivan dalam press release yang diterima duitologi.com, Kamis (17/1/2019).

Baca juga: Investasi Apa yang Aman untuk Pemula?

Bukan hanya itu, aplikasi yang memperoleh dua rekor MURI sebagai “Aplikasi Digital Perbankan Pertama dengan Layanan Robo Advisory”  dan “Aplikasi Digital Perbankan Pertama yang Mengintegrasikan Informasi Kepemilikan Produk Wealth Management secara Menyeluruh” ini dilengkapi dengan fitur robo advisory yang memberikan rekomendasi alokasi aset investasi untuk membantu mengoptimalkan investasi nasabah sesuai dengan profil risikonya di mana saja dan kapan saja.

Dengan fitur robo advisory ini, nasabah dapat memantau portofolio mereka dan dapat mengoptimalkan investasi dengan cara yang sederhana (simple), cerdas (smart), dan terintegrasi (integrated), di mana saja dan kapan saja. “Dengan teknologi ini nasabah benar-benar mendapatkan fleksibilitas tinggi dalam mengoptimalkan portofolio investasi mereka di waktu dan tempat yang nyaman bagi nasabah,” tambah Ivan.

Iklim Investasi di Indonesia

Sepanjang tahun 2018, kondisi pasar Indonesia mengalami volatilitas akibat dari sentimen negatif global yang terutama disebabkan oleh kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan isu perang dagang antara AS dan Tiongkok. Diperkirakan perang dagang kedua negara itu masih akan berlanjut di tahun 2019. Di tahun  ini juga, Indonesia memasuki tahun politik di mana Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) akan dilangsungkan secara serentak pada 17 April 2019 mendatang.


Ivan memprediksi setelah pasar Indonesia pada 2018 terimbas negatif oleh sentimen global tersebut, tahun 2019 diperkirakan kondisinya akan lebih baik. Kondisi itu ditunjukkan oleh sikap Bank Sentral Amerika Serikat The Fed yang melunak pada tahun ini dan harapan membaiknya hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok. “Namun, tantangan yang akan dihadapi adalah kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi setiap negara termasuk Indonesia,” ucap Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth ini.

Menanggapi kondisi tersebut, Director Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, meskipun di tahun ini ada hajatan besar demokrasi Pilpres dan Pileg, iklim Indonesia untuk investasi masih cukup stabil. Walaupun tidak ada korelasi langsung antara peristiwa politik dengan performa ekonomi, namun tetap ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh para investor.

Pasalnya, lanjut pria yang akrab disapa Toto ini, perubahan struktur pemerintahan dapat berdampak pada kebijakan-kebijakan ekonomi sebuah negara. “Saya percaya pesta demokrasi di tahun ini tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi ekonomi di tanah air,” jelas pengamat politik ini.

Baca juga: Apa Saja Kesalahan Investasi bagi Pemula?

Sementara CEO Schroders Indonesia Michael Tjoajadi mengakui, sepanjang tahun 2018 kondisi pasar Indonesia banyak dipengaruhi sentimen global yang berdampak salah satunya pada pelemahan rupiah yang membuat Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya. Meski demikian, Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonominya tetap positif.

“Di tahun 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif didukung oleh pemulihan daya beli domestik. Pasar modal Indonesia pun mulai bergairah di mana para investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia. Namun, kita harus tetap waspada dengan kondisi ekonomi global yang dapat berimbas pada kondisi pasar domestik,” tutur Michael. 


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Jan. 21, 2019, 11:31 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.