Pahami Jenis Over Kredit Rumah Sebelum Melakukannya

Pahami Jenis Over Kredit Rumah Sebelum Melakukannya

Sebagian besar orang pasti sudah mengenal istilah over kredit. Skema pembayaran ini hampir berlaku pada pembelian kendaraan dan rumah. Memang, metode pembelian dengan over kredit ini digadang-gadang memiliki banyak keuntungan.  Namun, bila tidak memahami secara baik, skema ini bisa menjadi kesulitan untuk memiliki rumah.

Dalam skema pembelian properti ada tiga jenis, yaitu over kredit bank, over kredit jual, dan over kredit bawah tangan. Untuk memahami ketiga jenis pembelian dengan over kredit itu, simak ulasannya sebagai berikut.

1. Over Kredit Antar-Bank

Over kredit ini terjadi antar-bank dan biasanya akibat adanya penawaran suku bunga yang lebih rendah dibandingkan bank lainnya. pemilik rumah yang melakukan over kredit KPR antar-bank ini bertujuan untuk mencari bunga yang lebih ringan. Dengan bunga yang lebih ringan, maka cicilan KPR yang harus dibayarkan pun semaki ringan pula.

Baca juga: Panduan Lengkap Pengajuan Kredit Rumah Pertama

Dilansir dari laman cekaja.com, pengajuan over kredit antar-bank ini terbilang menyulitkan karena syarat yang harus disiapkan sama seperti saat pengajuan baru KPR. Anda harus memulai dari awal dengan menyiapkan berbagai dokumen seperti identitas diri (KTP dan Kartu Keluarga) dan bukti penghasilan tetap setiap bulan.

Selain itu, ada syarat tambahan yang harus dilengkapi, yakni sertifikat rumah yang akan diover kredit sehingga proses over kredit baru dapat dilakukan jika Anda selaku pembeli memiliki sertifikat rumah tersebut. Biasanya sertifikat rumah tersebut baru terbit sekitar setahun setelah proses KPR sehingga dengan kata lain proses over kredit umumnya baru dapat dilakukan setahun setelah KPR lama berlangsung.


2. Over Kredit Jual

Over kredit jenis ini adalah yang paling banyak terjadi. Biasanya orang yang menjual rumah masih dalam proses KPR karena beberapa alasan seperti menemukan rumah lainnya yang lebih sesuai keinginan atau ada kebutuhan dana yang mendesak sehingga terpaksa harus menjual rumah.

Baca juga: Pilih Rumah Baru atau Rumah Bekas?

Dalam laman finansialku.com (16/1/2019), pengajuan over kredit jual ini hampir serupa dengan pengajuan KPR pada umumnya, tetapi pihak pembeli harus hadir di bank bersama dengan pihak penjual dan membayarkan sejumlah biaya over kredit sesuai kesepakatan. Pengecekan dan appraisal akan dilakukan oleh bank dan bila pengajuan tersebut disetujui, maka pihak bank akan mengeluarkan Akta Jual Beli (AJB) dan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT).

3. Over Kredit Bawah Tangan

Transaksi over kredit rumah ini tidak melibatkan pihak perbankan sama sekali. Jadi proses jual beli rumah hanya melibatkan antara penjual dan pembeli. Artinya, pembeli rumah akan meneruskan cicilan rumah dengan menggunakan nama penjual, tanpa diketahui oleh bank.

Menurut laman finansialku.com, jenis over kredit sangat berisiko dan banyak tidak disarankan. Mengapa demikian? Hal itu dikarenakan pihak bank yang merupakan penyedia dana KPR tidak akan menyerahkan sertifikat kepada pembeli karena nama yang tercantum dalam sertifikat tersebut adalah nama penjual rumah.

Baca juga: Dilema, Penting Pilih Punya Rumah atau Mobil Dulu?

Selain masalah terkait sertifikat rumah, ada beberapa kasus meskipun jumlahnya tidak banyak, dikhawatirkan pemilik lama menghilang dan proses pengambilan sertifikat di bank menjadi sangat sulit karena harus diambil langsung oleh nama pemilik lama.

Dengan memahami jenis-jenis over kredit rumah, maka Anda bisa memilih sistem over kredit yang akan diambil saat ingin membeli rumah. Selain itu, memahami jenis over kredit juga bisa memperkecil risiko dalam prosesnya. Pasalnya, semakin kecil risiko dalam proses take over KPR, tentu akan semakin baik. Oleh sebab itu, pilihlah jenis take over KPR yang aman dan legal sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.



Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Jan. 18, 2019, 2:06 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.