Bagaimana Anak Mengenal Konsep Uang?

Bagaimana Anak Mengenal Konsep Uang?

Seringkali mengajarkan soal uang pada anak bukan di peringkat teratas dalam daftar penting orangtua. Tetapi perlu sadari kalau di tengah lingkungan yang hedonis dan konsumtif saat ini, tentu makin penting membentengi diri dan anak untuk “melek” soal uang.

Pada dasarnya, konsep uang yang perlu dikenal pada anak di antaranya perihal bagaimana uang itu dihasilkan (earning), bagaimana berbagi (sharing), kebiasaan menabung (saving), perilaku belanja (spending), perilaku berutang atau meminjam (borrowing).

Tidak perlu terlalu dini anak belajar tentang uang karena anak-anak akan lebih siap menghadapi kenyataan hidup. Tentunya ada tahapan mengembangkan pengetahuan dan tanggung jawab seputar uang bagi anak-anak.

Untuk anak usia belia kategori Kelompok Bermain, mereka sudah terbiasa mengumpulkan uang logam. Bisa saja Anda mengajarkan anak tentang perbedaan uang logam Rp100, Rp200, Rp500 hingga akhirnya Rp1.000. Anak akan belajar tentang ukuran, bentuk, hingga desain dan warna.

Namun, anak-anak baru menyadari nilai uang ketika masuk kategori Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Sambil anak meningkatkan kemampuan menambah, mengurangkan, membagi dan mengalikan, anak akan belajar praktek nyata konsep berhitung menggunakan uang. Jadi terjadi kontinuitas pembelajaran dari segi visual, nilai uang, hingga bagaimana kombinasi nilai dari uang logam dan kertas.

Pada tahap awal ketika siap memberikan dan siap menerima “uang saku”, jelaskan pada anak untuk apa saja uang tersebut harus dipergunakan. Indikatornya adalah ketika anak mulai meminta orangtua membeli suatu barang, maka anak Anda telah cukup usia untuk mengerti bagaimana uang bekerja. Ajarkan untuk menyisihkan 10 persen dari uang saku untuk tabungan, sebagian lain untuk sosial (charity), dan sisanya untuk pengeluaran mereka (spending).

Ketika usianya memungkinkannya untuk beli permen sendiri, maka anak telah cukup umur untuk belajar bagaimana menghasilkan uang (earning) dan menabungnya (saving). Sebagai contoh, sebagian orangtua seringkali menghadapi anak yang merengek minta dibelikan barang saat keluarga sedang jalan ke mal atau saat rumah tangga sedang belanja reguler untuk keperluan mingguan atau bulanan.

Dengan memberikan uang saku, orangtua akan terlepas dari tekanan belanja dari anaknya, dan tentu saja anak akan belajar untuk memutuskan barang apa yang akan dibeli, menggunakan uang saku mereka. Orangtua bisa mengatakan, “kamu sudah dapat uang saku, jadi terserah kamu untuk menggunakan uangmu itu”. Dengan demikian anak akan belajar bahwa uang itu terbatas dan tidak mudah didapatkan.

Tetapi bagaimana memulainya? Ada dua cara yang bisa diterapkan orang tua agar anaknya “melek” perkara uang, yaitu:

1. Bicaralah soal uang dengan anak. Jangan formal, tetapi berkaitan erat dengan keseharian anak dan hidup keluarga. Topiknya bisa mulai dari kenapa uang itu berharga, dari mana datangnya uang, kemana perginya uang. Sekali lagi tetap pakai bahasa anak.

2. Berikanlah teladan perilaku yang bertanggung jawab. Orangtua juga perlu mengecek apakah mereka telah mencontoh perilaku yang benar. Tahukan kalau anak suka meniru orang tua? Pastikan kita memberi contoh yang benar.

Anak-anak sangat cepat meniru kebiasaan yang orangtua lakukan. Pastikan apa yang telah diajarkan kepada anak-anak juga dilaksanakan oleh orangtua. Orangtua juga jangan meributkan atau stres kalau berbicara soal uang, selalu merasa kesulitan melunasi tagihan kartu kredit, kerap melakukan belanja impulsif alias “gelap mata".

Jangan lupa, anak juga belajar lewat proses trial and error. Lebih baik anak membuat kesalahan sekarang ketika muda dibandingkan nanti ketika anak dewasa. Sayangnya ilmu tentang uang ini tidak diajarkan secara terstruktur di sekolah, makanya tergantung orangtua dan anak untuk belajar tentang nilai uang, manfaat menabung, investasi, dan perencanaan. (Manuel Pakpahan, CFP, CRP)


Manuel Pakpahan, CFP, CRP
manuel_pakpahan
Nov. 30, 2018, 10:16 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.