Menjaga Keseimbangan Pengelolaan Keuangan Keluarga

Menjaga Keseimbangan Pengelolaan Keuangan Keluarga

Anda tentu pernah mengamati, mungkin keluarga, sanak saudara, atau tetangga yang sepertinya hidup selalu berkekurangan. Padahal mereka bekerja di perusahaan bonafide dengan pendapatan tidak sedikit. Apalagi kalau suami-istri juga bekerja. Kerja tahunan tetapi seperti tidak ada hasilnya, bahkan rumah masih “ngontrak”. Di sisi lain, ada keluarga yang kaya dengan rumah dan mobil mewah, tetapi hidup seolah susah. Jika belanja di pasar iritnya bukan main.

Apakah salah hidup hemat? Jelas tidak. Salahkah kita membelanjakan pendapatan untuk menikmati hidup? Hal ini juga tentunya tidak salah. Masalahnya adalah jika kita hidup “terlalu hemat” atau “terlalu boros”. Sesuatu yang terlalu berlebihan tentu tidak baik. Dalam kedua kasus tersebut, kita belajar pentingnya menjaga keseimbangan pengelolaan keuangan keluarga untuk hidup yang lebih baik.

Kondisi ini bisa dianalogikan sebagai “rem” dan “gas” pada kendaraan. Bisa bayangkan apa yang terjadi bila mobil atau motor, Anda hanya memiliki gas (tanpa rem) atau hanya rem (tanpa gas). Pada kasus pertama, suami-istri sama-sama bertindak sebagai gas.

Seorang teman yang belum menikah beberapa waktu lalu bercerita tentang pasangannya. Pasangannya memiliki pekerjaan yang baik dengan pendapatan lebih dari cukup. Masalahnya, pasangan tidak pernah berpikir tentang masa depan. Prinsipnya hidup harus dinikmati, tidak perlu memikirkan hari esok. Bahkan pernah jalan-jalan ke Eropa dan pulang hanya sisa 10 Euro. Itu pun pasangannya masih memaksa tinggal semalam lagi sebelum pulang.

Sebenarnya, dirinya adalah tipe orang yang menikmati hidup. Namun karena gaya hidup pasangannya serupa, dia mulai berpikir untuk mengubah gaya hidupnya sendiri agar bisa mengelola keuangan keluarga setelah menikah. Sebuah keputusan yang sangat tepat. Bayangkan yang terjadi bila nanti jadi menikah dan keduanya seolah hidup hanya untuk hari ini.

Pada kasus lain, ada keluarga di mana suami istri bertindak sebagai rem. Prinsipnya adalah meminimalkan semua biaya, bila perlu meniadakannya. Seperti yang sudah disebutkan, hidup hemat adalah gaya hidup yang baik. Namun perlu diingat ada beberapa pos pengeluaran yang tentu tidak dapat dikurangi. Makanan misalnya. Tidak perlu mahal dan mewah memang, tetapi harus cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi setiap anggota keluarga. Contoh lain adalah pendidikan anak. Harus diakui memang saat ini pendidikan yang berkualitas tidaklah murah. Namun selama kita sanggup, tentu kita harus memberikan pendidikan yang terbaik dan mungkin berarti lebih mahal untuk anak-anak.

Demikian juga dengan kesehatan. Ada sebuah keluarga yang kalau anggota keluarganya sakit tidak langsung dibawa ke dokter hanya karena tidak mau mengeluarkan biaya. Bahkan sekadar ke puskesmas yang hanya bayar uang pendaftaran Rp10.000 pun masih berpikir dua kali walau sudah sakit parah. Apalagi kalau harus memberi donasi. Kita lihat dalam kasus ini, tidak ada yang berinisiatif untuk mengalokasikan pengeluaran yang memang diperlukan dan tidak bisa ditawar lagi.

Lalu, di manakah posisi yang ideal? Tentu saja adalah keseimbangan di antara kedua titik ekstrem tersebut. Kita harus menikmati hidup dan bersyukur atas anugerah Tuhan. Namun ingat bahwa kita juga harus menyiapkan masa depan karena harus bertanggung jawab akan masa depan diri dan keluarga sendiri.

Jadi, sekarang coba renungkan, kira-kira Anda lebih berperan sebagai gas atau rem? Setelah itu, pikirkan peran suami atau istri (bagi yang menikah) atau calon pendamping (bagi yang belum menikah). Mudahan-mudahan bisa berbagi peran dan saling melengkapi. Kalau tenyata Anda dan pasangan memainkan peran yang sama, segera modifikasi peran salah satu pasangan. Ciptakan keseimbangan, kelola uang untuk kehidupan yang lebih baik. (Mone Andrias & Manuel Pakpahan, CFP, CRP)


Manuel Pakpahan, CFP, CRP
manuel_pakpahan
Nov. 29, 2018, 5:26 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.