Mengintip Strategi Manajer Investasi

Mengintip Strategi Manajer Investasi

Bagi orang yang melakukan investasi seperti reksa dana sudah pasti mengenal istilah manajer investasi (MI). Namun tidak banyak orang yang tahu bagaimana cara kerja dan strategi manajer investasi dalam mengelola dana investor. Padahal mengetahui strategi yang dilakukan oleh manajer investasi dalam pengelola dana investasi sangat penting.

Mengapa diperlukan? Agar saat ingin berinvestasi reksa dana tertentu Anda bisa membedakan strategi antara manajer investasi satu dengan lainnya dan mengetahui apa filosofi investasi. Ada sebuah kutipan yang sangat pas untuk menjelaskan soal investasi reksa dana. Berikut kutipannya:

The investment objective of xxx is to provide investors with long term capital gain by capitalizing the growth of Indonesian stock market, with some opportunities to invest in smaller Indonesia companies.” Kutipan ini menjelaskan tujuan reksadana ini mendapatkan keuntungan jangka panjang dengan memanfaatkan pertumbuhan pasar modal dan berinvestasi pada perusahaan berskala kecil.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang reksa dana, Anda bisa berkonsultasi dan calon manajer investasi mengenai detil strategi bila hal ini tidak dijelaskan dalam prospektus. Prospektus berisi informasi penting yang menampilkan penjelasan kinerja dari manajer investasi terkait. Anda perlu membaca secara seksama sebelum melangkah lebih jauh.

Manajer investasi (found manager) akan melakukan sejumlah pendekatan dalam mengelola investasi. Umumnya, manajer investasi melakukan 5 strategi ini, yaitu:

1. Aktif atau pasif

Dalam pasar yang efisien, harga efek dipercaya sudah mencerminkan informasi relevan yang diterima pasar. Oleh karena itu, keinginan mendapatkan keuntungan melebihi kinerja indeks pasar tidak mungkin terjadi. Karenanya, manajer investasi yang pasif cenderung mengikuti proporsi indeks pasar (indexing). Misalkan, saham A mengkontribusikan sebesar 5 persen terhadap total market capitalization (kapitalisasi pasar = harga per lembar saham x total lembar saham beredar), maka 5 persen dari total nilai portofolio diinvestasikan pada saham A. Buy-and-hold juga contoh strategi pasif yang tidak sering bertransaksi sehingga menekan biaya.

Sedangkan yang tidak percaya pasar efisien, akan aktif mencari saham yang murah (underpriced) guna mendapatkan return melebihi return indeks pasar. Riset dan perdagangan relatif lebih banyak sehingga biaya manajemen lebih mahal.

2. Value atau growth

Value stocks adalah saham-saham yang dinilai murah dengan melakukan berbagai analisis pasar dan fundamental, dicerminkan dengan nilai rasio P/E (price-to-earnings), P/B (price-to-book value), P/S (price-to-sales) dan P/CF (price-to-cash flow) yang rendah dan juga saham yang memiliki rasio dividend yield (dividend-to-price) yang tinggi dibandingkan saham lainnya.

Growth stocks adalah saham-saham yang walaupun tidak murah memiliki potensi pertumbuhan tinggi karena diharapkan memberikan earnings per share (EPS) yang lebih tinggi di masa yang akan datang. Saham-saham ini memiliki nilai rasio P/E, P/B, P/S, dan P/CF yang relatif tinggi.

3. Perusahaan kecil atau besar

Saham-saham dengan market cap kecil memberikan tingkat pengembalian lebih tinggi dibandingkan saham dengan market cap lebih tinggi. Salah-satu alasannya adalah karena saham perusahaan kecil berpotensi tumbuh dan memberikan capital gain lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar. Secara empiris, dengan mempadukan strategi value dan small cap, dalam jangka panjang memberikan return lebih tinggi dibandingkan indeks pasar atau dengan memakai strategi lainnya.

4. Top-down approach atau bottom-up approach

Top-down mengamati kondisi makroekonomi sehingga dapat memutuskan sebaiknya melakukan investasi pada kas, saham, pasar uang, obligasi, surat berjangka, atau komoditas (asset allocation). Sedangkan bottom-up menganalisis saham atau kondisi perusahaan yang menguntungkan tanpa harus mempertimbangkan kondisi makroekonomi (security selection). Kenyataannya, kedua pendekatan ini sering dipakai bersamaan.

5. Analisis teknikal atau fundamental

Analisis teknikal mengamati pergerakan harga saham dengan memakai data seperti harga, volume transaksi, dan lainnya. Analis teknikal percaya bahwa sejarah akan berulang, oleh karenanya meyakini selalu ada tren harga yang dapat diprediksi. Biasanya bermanfaat pada saham yang transaksinya likuid. Pemakainya percaya bahwa pasar tidak efisien sehingga dengan memanfaatkan harga masa lalu, investor atau trader dapat menghasilkan return portofolio lebih tinggi dibandingkan return pasar.

Analisis fundamental menilai harga saham dengan memetakan kondisi riil usaha dan berbagai kebijakan yang dapat mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Analis fundamental menilai laporan keuangan, berita, dan berkunjung ke perusahaan guna melihat prospek dan risiko perusahaan dan akhirnya menentukan harga wajar sahamnya. Kebanyakan manajer investasi menggabungkan keduanya.

Dengan mengetahui strategi manajer investasi, semoga Anda dapat berinvestasi dengan cermat dan bijaksana. (Yunieta Anny, Manuel Pakpahan, CFP, CRP)


Manuel Pakpahan, CFP, CRP
manuel_pakpahan
Nov. 29, 2018, 2:08 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.