Mengenalkan Anak tentang Konsep Berutang yang Baik

Mengenalkan Anak tentang Konsep Berutang yang Baik

Perlukah anak dikenalkan mengenai konsep utang? Jawabannya bisa beragam. Namun memang ada baiknya anak dikenalkan dengan konsep utang. Pengenalan konsep itu agar anak paham bahwa utang boleh dilakukan asalkan dalam kondisi tertentu. Terutama mengenai konsep utang yang baik (good debt).

Bagi sebagian orang, mengenalkan konsep utang baik ini dianggap dapat dipelajari sendiri kelak saat anak beranjak dewasa. Namun, tidak ada salahnya sebagai orangtua yang baik atau orang dewasa yang bertanggung jawab mengajarkan hal ini kepada anak-anak untuk mencegahnya terjerumus pada utang yang buruk (bad debt) di masa mendatang. Lagipula, sekarang semakin banyak orangtua yang rela memberikan kartu kredit tambahan untuk anak-anaknya demi kemudahan dan atas nama kasih sayang, tetapi bila tidak disiplin bisa-bisa jadi “senjata makan tuan”.

Sebelum mengajarkan anak-anak tentang utang, pastikan anak telah belajar topik-topik seperti earning, sharing, saving, dan spending sebelumnya. Anak harus tahu terlebih dahulu dari mana datangnya uang yang ada di tangan mereka sekarang, pentingnya konsep berbagi diwujudkan sebagai bentuk syukur atas berkah Tuhan, hingga mengajar anak pentingnya menabung untuk membeli barang yang dibutuhkan.

Kenalkan pula konsep bunga atau bagi hasil, sehingga anak mengerti bahwa dengan menabung ada tambahan uang yang disebut penghasilan bunga atau bagi hasil. Ajaklah anak-anak berbelanja dan biarkan mereka menyaksikan prosesnya.

Suasana itu menjadi berkesempatan untuk memandu anak-anak berhitung sederhana, mengapa selembar uang dengan nilai nominal besar dapat ditukar dengan barang atau benda yang dibutuhkan keluarga tetapi tetap dapat uang kembalian, yang jumlah lembarnya bisa jadi lebih banyak dari uang yang dikeluarkan. Dengan demikian anak-anak dapat mengerti berharganya uang.

Selanjutnya, orangtua juga dapat mencoba memberi anak-anak “utangan” untuk keperluan hidup mereka. Jangan lupa, kenakan bunga bagi mereka agar anak belajar konteks kehidupan yang riil layaknya meminjam ke bank. Jaga agar periode pembayaran cicilan pendek, kenakan bunga yang cukup sehingga anak belajar konsekuensi dari meminjam atau berutang.

Kemudian, kenalkan anak-anak tentang macam-macam utang yang dapat membantu mereka untuk membeli barang yang dibutuhkan seandainya tabungan tidak mencukupi, termasuk utang yang diambil oleh rumah tangga. Pilahlah contoh utang produktif seperti KPR, pinjaman usaha dan pinjaman untuk biaya sekolah terlebih dahulu. Lalu baru utang konsumtif seperti kredit mobil dan hutang kartu kredit yang cenderung berbahaya jika seseorang lepas kendali.

Ini untuk mengenalkan anak bahwa mereka tidak perlu takut mengambil utang bila nanti mereka memerlukannya. Namun membiasakan hanya mengambil kredit untuk hal yang benar-benar diperlukan. Terangkan pula bahwa utang itu bisa jadi hutang baik (good debt) dan utang buruk (bad debt), tetapi tidak perlu takut atas utang.

Alternatif cara bagi anak yang lebih besar, dapat pula “dengan sengaja” tidak membayar lunas tagihan kartu kredit untuk satu-dua bulan. Ajak anak melihat lembar penagihan sehingga didapat gambaran jelas tentang efek bunga pinjaman yang sangat memberatkan. Anak akan mengerti benar akibat bila mereka tidak disiplin berhutang, yakni mengambil terlalu banyak hutang atau bahkan telat membayar cicilannya, tentunya dikaitkan dengan konsep bunga tersebut di atas.

Akhirnya, orangtua pun harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dengan disiplin dalam berutang. Jangan biarkan tagihan kartu kredit membengkak, apalagi terlihat bertengkar dengan pasangan karena cicilan hutang tidak terkontrol. (Lucky Ariesandi, CFA & Manuel Pakpahan CFP, CRP)


Manuel Pakpahan, CFP, CRP
manuel_pakpahan
Nov. 29, 2018, 4:13 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.