Lakukan Prinsip ini dalam Mengelola Gaji Bulanan

Lakukan Prinsip ini dalam Mengelola Gaji Bulanan

Punya penghasilan bukan berarti bebas membeli apa saja. Seringkali orang lepas kontrol sehingga tidak jarang baru beberapa minggu gajian kondisi keuangan sudah “bokek”. Setelah itu, Anda mulai pusing dan sibuk untuk mencari pinjaman ke teman atau menggadaikan barang. Kondisi seperti itu menandakan ada kesalahan dalam mengelola gaji bulanan.

Untuk itu perlu ada upaya mengelola gaji bulanan secara benar. Jadi mengelola gaji bulan merupakan langkah kecil namun berdampak besar untuk mencapai kemerdekaan finansial. Dengan pengelolaan gaji bulanan yang benar, Anda dapat memiliki dan mencapai masa depan finansial yang diinginkan.

Dalam laman Finansialku, prinsipnya dalam mengelola keuangan, yang namanya pendapatan berupa gaji bulanan memang harus dihabiskan. Namun, cara menghabiskannya harus dengan cara yang benar dan tepat. Jika tidak, jangankan kemandirian finansial untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin Anda harus terpaksa berutang untuk memenuhinya.

Cara termudah untuk mengelola gaji bulanan Anda adalah dengan menerapkan prinsip porsi menghabiskan pendapatan. Salah satu referensi yang bisa digunakan dalam melakukan perencanaan bagaimana menghabiskan penghasilan adalah prinsip 10 : 20 : 30 : 40. Penjumlahan dari 10 + 20 + 30 + 40 adalah 100. Angka tersebut menunjukkan berapa persen dari penghasilan yang sebaiknya dialokasikan.

1. 40 Persen untuk kebutuhan hidup

Persentase terbesar ini dialokasikan untuk memenuhi dan membayar kebutuhan hidup yang sifatnya bulanan. Di dalamnya meliputi biaya makan, transportasi, tagihan utilitas, pulsa telepon, langganan televisi, keanggotaan olahraga, hobi, pakaian, rekreasi dan sebagainya. Alokasikan gaji Anda untuk memperioritaskan hal-hal yang sangat penting.

Bila dengan porsi ini ternyata masih belum mencukup, artinya Anda perlu untuk melakukan penurunan gaya hidup. Misalkan saja mulai melakukan penghematan mengenai biaya makan dengan tidak terlalu sering berbelanja. Dalam mobilitas, lebih banyak menggunakan sarana transportasi umum.


2. 30 persen untuk cicilan produktif

Laman Kompas Ekonomi menjelaskan alokasi dana bulanan sebesar 30 persen bisa digunakan untuk membayar cicilan yang sifatnya produktif atau menunjang masa depan. Dengan semakin meningkatnya harga rumah, maka memiliki hunian bisa menjadi prioritas. Dana ini bisa digunakan untuk membayar cicilan kredit kepemilikan rumah atau kredit kepemilikan apartemen.

Sepanjang utang yang kita miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30 persen dari penghasilan Anda, maka pengeluaran tersebut masih bisa dikatakan wajar. 

3. 20 persen dana darurat

Situs Vimela menyarankan sebisa mungkin alokasikan 20 persen besaran gaji untuk investasi atau dana darurat bisa dengan ditabung, diinvestasikan, atau disimpan saja. Uang ini baru bisa digunakan kalau ada kebutuhan mendadak.

Sementara Finansialku menjelaskan untuk Anda yang menjadi tulang punggung keluarga, maka sebaiknya adalah memiliki dana darurat sebesar 6-12 kali pengeluaran bulanan bagi yang sudah berkeluarga atau 3-6 kali dari yang masih lajang. Dana darurat bisa disimpan pada instrumen yang mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10-15 tahun pengeluaran, lalu dilanjutkan dengan melakukan asuransi. Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis, Anda disarankan untuk memilikinya, namun Anda juga dapat menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk kelas I senilai Rp80.000 per bulan.

4. 10 persen untuk donasi

Dalam sebulan upayakan melakukan kebaikan. Sisihkan penghasilan bulanan sebesar 10 persen untuk melakukan donasi. Menurut Kompas Ekonomi, definisi berbuat kebaikan itu amat luas, tidak terbatas hanya pada memberikan donasi di tempat ibadah, tapi juga hal lain seperti berbakti kepada orang tua dan memberikan bantuan secara bijaksana kepada orang lain yang membutuhkan. Angka ini juga bukanlah angka pasti yang sifatnya wajib, jika masih dalam tahap awal berkarier sehingga penghasilannya belum besar, bisa lebih kecil dari angka tersebut namun upayakan tetap ada.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 29, 2018, 10:29 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.