Berapa Uang Saku yang Ideal untuk Anak?

Berapa Uang Saku yang Ideal untuk Anak?

Setiap anak akan berkembang intelegensinya. Termasuk mulai mengenal uang. Memasuki usia sekolah, anak akan mulai punya kebutuhan lain seperti jajan. Maka salah satu yang kerap dilakukan orangtua terutama ibu adalah memberi uang saku untuk anak. Belum lagi, anak kerap meminta tambahan uang jajan. Banyak orangtua bertanya, berapa sebenarnya uang saku yang ideal untuk anak?

Pertanyaan itu muncul karena ada kekhawatiran dari orangtua, kalau memberi terlalu banyak mereka takut digunakan untuk membeli yang kurang bermanfaat. Tetapi kalau terlalu sedikit, ditakutkan pula anak akan merasa lapar atau haus karena tidak cukup diberi uang jajan.

Baca juga: Bunda, Ini Manfaat Mengajarkan Anak Menabung

Co-founder ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie dalam situs Zapfinance menerangkan, uang saku adalah sumber penghasilan utama bagi seorang anak. Namun memberi uang saku dapat diterapkan apabila anak sudah memenuhi 3 kondisi berikut, yaitu memiliki keinginan membeli barang atau mainan dengan nilai besar, anak mulai menyadari kebutuhan untuk menyimpan uang, dan anak sudah mampu berhitung serta mampu bertanggung jawab dalam menyimpan uang saku.

Waktu yang Tepat untuk Memberi Uang Saku

Prita menyarankan hingga anak berusia 10 tahun uang saku biasanya diberikan setiap hari. Di atas usia tersebut, mulailah memberi uang saku secara mingguan atau bulanan. Cara ini dilakukan agar anak belajar untuk mengelola uang saku dan berupaya mencukupi kebutuhan selama seminggu. Bersikaplah tegas ketika anak meminta tambahan uang saku karena menghabiskan uang saku sebelum periode berakhir.

Bentuk uang jajan pun harus diperhatikan. Uang saku dalam bentuk tunai akan sangat mudah untuk dibelanjakan dan sulit untuk dievaluasi. Sehingga, sampai usia anak 15 tahun, sebaiknya anak diberikan uang saku dalam bentuk tunai. Di atas usia itu, mulailah mengajak anak membuka tabungan atas namanya sendiri.

Namun bukan berarti Anda tidak boleh memberi uang tambahan pada anak. Uang tambahan itu bisa didapat anak setelah melakukan tindakan seperti membersihkan rumah yang sesuai dengan usianya. Bisa juga saat momen Lebaran dan mendapat prestasi gemilang di sekolah. Kondisi memberi uang saku tersebut bisa menjadi metode yang tepat dalam mengajarkan hak dan kewajiban pada anak.


Laman Aturduit memberi pertimbangan memberi uang saku harus menyesuaikan dengan jenjang kemampuan dan pendidikan anak. Sebagai orangtua seharusnya mampu menghitung berapa kira-kira besaran kebutuhan anak. Sebagai contoh biaya transportasi harian dan kebutuhan hidup lainnya, untuk anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dianggap tidak memerlukan uang saku. Alihkan dan ajarkan anak untuk bisa menabung dengan menggunakan celengan.

Pada usia Sekolah Dasar (SD), orangtua mulai bisa memberikan uang saku harian dengan nominal tertentu. Untuk anak kelas 1-3 yang masih diantar jemput tentu tidak membutuhkan biaya transportasi. Maka berikan uang saku sebagai sarana jajan anak. Ketika masuk ke kelas 4, Anda mulai bisa menaikkan uang saku. Tambahan uang itu karena anak mulai didik mandiri yakni mulai menggunakan transportasi umum.

Berapa Jumlah Uang Sakunya?

Mengenai besaran uang saku tentu harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga dan kebutuhan anak masing-masing. Tidak ada keharusan orangtua memberi uang saku dalam jumlah yang pasti kepada anak. Mengutip tempo.co, Selasa (7/8/2018), situs totallyawesome.tv pada tahun 2016 melakukan survei tentang uang jajan anak-anak di Asia Pasifik. Menurut lembaga tersebut, sebagian besar anak usia 6-14 tahun di Asia Tenggara mendapatkan uang jajan secara reguler dari orangtuanya.

Baca juga: Cara Ideal Mengenalkan Uang Pada Anak

Di Indonesia, lebih dari 65 persen anak mendapat uang jajan setiap hari untuk berbagai kebutuhan seperti makanan (76 persen), minuman (68 persen), mainan (50 persen), snack (35 persen), dan buku (35 persen). Rata-rata jumlah uang jajan yang diterima anak Indonesia Rp 550 ribu per bulan, jauh lebih kecil dari jumlah yang diterima anak-anak di Australia (Rp1,7 juta) dan di Singapura (Rp1,4 juta).

Namun jika bercermin dari survei yang dilakukan Yayasan Lentera Anak bersama Forum Anak pada Mei sampai Juni 2017 di 10 kota (Tangerang Selatan, Bekasi, Semarang, Banjarmasin, Lampung, Mataram, Batu, Kabupaten Pasaman Barat, Pekanbaru, dan Kupang) seperti dikutip dari kompak.co menunjukkan, siswa Sekolah Dasar mendapat uang saku sebesar Rp10 ribu per hari. Sedangkan untuk siswa SMP dan SMA masing-masing Rp13 ribu per hari dan Rp27 ribu per hari.



Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 29, 2018, 9:49 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.