Asuransi Kesehatan ? Tradisional atau Unitlink ?
Beberapa hari lalu lewat sebuah ketikan di layar handphone, dengan menggunakan aplikasi WhatsApp, saya berdiskusi dengan seorang teman.
Beliau bertanya tentang program asuransi kesehatan yang sistemnya tradisional dan tidak berbalut investasi unitlink. Dia berpendapat bahwa asuransi kesehatan dan investasi harus terpisah. Ketika saya tanyakan, mengapa dia berpikir demikian, begini alasannya : “Karena gua merasa uang yang gua bayar buat unit link itu, baru balik modal 10 tahun kemudian”. Contoh : Jika premi per bulan adalah IDR 500.000, maka akan lebih baik jika premi cukup 300.000 saja dan sisanya di reksadana.
Well… Jujur saja, saya banyak bertemu pikiran seperti ini, terutama dalam masa bakti saya sebagai agen asuransi yang baru kisaran enam tahun. Dan tidak saya pungkiri, bahwa dulu pun saya menganut cara pikir yang sama.
Pertanyaannya menjadi seperti ini : “Mengapa di Indonesia, asuransi unitlink masih sangat laku dan asuransi tradisional malah sebaliknya ?” Konteks asuransi di sini adalah asuransi kesehatan ya… Belum bicara tentang asuransi jiwa dan manfaat proteksi lainnya dalam alur perencanaan keuangan.
Berbicara asuransi, maka kita berbicara tentang yang namanya KONTRAK PERJANJIAN PERTANGGUNGAN. (Bahasa Jawanya adalah : POLIS).
Dan jika kita sebut “Kontrak” artinya ada jangka waktu. Jangka waktu inilah yang membedakan antara asuransi tradisional dengan asuransi unitlink. Di mana dalam sebuah asuransi tradisional, masa kontrak biasanya hanya dibatasi 1 tahun dengan perpanjangan max 5 tahun (lihat asuransi mobil), atau setiap 5 tahun sekali akan direview dan dipertimbangkan kembali untuk perpanjangan atau ditolak.
Sedangkan dalam sebuah kontrak asuransi unitlink, (silahkan buka polis Anda untuk cek kebenaran tulisan saya, atau buat yang belum punya polis bisa juga PM saya… Hehehe), masa proteksi kesehatan biasanya melindungi sampai usia maximum manfaat tersebut. Ada yang max s.d usia 75 tahun… Ada juga yang 80 tahun.. Ada juga yang s.d usia 88 tahun.
MEMANG premi lebih tinggi dibanding asuransi tradisional, namun premi ini fix dan tidak akan mengalami perubahan s.d masa asuransi berakhir. Sedangkan dalam asuransi tradisional, sebaliknya. Premi akan mengalami kenaikan setelah periode tertentu yang (bisa jadi) dipengaruhi nilai klaim periode sebelumnya. Saya selalu katakan bahwa premi yang “seolah-olah” lebih tinggi ini, akan terasa murah saat nanti biaya pengobatan makin tinggi dan premi masih tetap sama. Toh di perusahaan tempat saya menjadi konsultan, benefit program proteksi kesehatan juga mengikuti inflasi padahal preminya tetap sama.
Beberapa waktu lalu saya pernah bertanya kepada seorang konsultan OJK yang juga seorang pejabat di FPSB Indonesia (Inisial : TDS), mengapa di Indonesia masih laku yang namanya UnitLink. Ternyata jawabannya simple, karena inflasi di Indo yang belum bisa dikendalikan terkait dengan biaya medis atau kesehatan. Dan setelah saya lihat beberapa waktu lalu BPJS juga menaikkan preminya, maka saya semakin yakin bahwa asuransi kesehatan memang sebaiknya adalah asuransi kesehatan yang bisa cover sesuai kuitansi. Asuransi kesehatan model ini sudah banyak di market dan tidak akan pernah ada dalam sebuah asuransi tradisional (kecuali BPJS).
Jadi, kalau kita berbicara asuransi, tentunya berbicara tentang Peace Of Mind. Asuransi kesehatan sifatnya kontrak jangka panjang, bukan cuma setahun atau dua tahun. Dan lebih indah lagi kalau agen asuransi Anda bisa memberikan konsultasi lebih bukan hanya tentang asuransi, namun Wealth Planning secara menyeluruh.
SIlahkan hubungi agen asuransi yang Anda kenal untuk berdiskusi tentang dunia asuransi atau dunia perencanaan keuangan di Indonesia secara menyeluruh. Sekalian toh belajar gratis…