Kontributor 728x90

Apakah Deposito Tidak Berisiko?

Dari sejak SD, kita selalu diajarkan oleh orang tua kita pepatah yang mengatakan β€œRajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya.” Namun harus diakui, saat ini hemat saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi kaya. Di Indonesia, rata-rata profil masyarakatnya masih cenderung konservatif yaitu menyimpan uang di tabungan atau deposito.  Karena apabila kita sudah berhemat dan kemudian uangnya hanya diletakan dibawah tempat tidur atau tabungan atau deposito, sudah pasti terkena risiko inflasi.

Benarkah apabila kita menaruh uang di bank dalam bentuk tabungan atau deposito itu tidak beresiko? Dengan program jaminan simpanan dari Pemerintah, sebetulnya risiko gagal bayar oleh Bank sebetulnya bisa di eliminasi. Namun dari sisi lain, kita sebagai pemilik rekening deposito/tabungan juga menghadapi risiko likuiditas yang di hadapi oleh Bank.

Risiko likuiditas dapat kita lihat dengan jelas pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter, dimana terjadi rush yaitu pengambilan uang tunai karena panic secara besar-besaran oleh nasabah dan Bank tidak sanggup memenuhi permintaan nasabah yang ingin menarik dananya, karena likuiditas Bank sendiri terganggu.

Bank dengan fungsinya sebagai penengah (intermediary), dimana Bank mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan / deposito serta memberikan bunga atas dana tersebut. Bank kemudian menyalurkan dana tersebut dalam bentuk pinjaman.

Yang kemudian menjadi risiko adalah tabungan / deposito kita tenornya jangka pendek atau rata-rata kurang dari 6 bulan, sementara Bank menyalurkan pinjaman dengan tenor panjang di atas satu tahun seperti KPR. Kita lihat disini, tabungan kita (Kewajiban bank) bisa diambil kapan saja, sementara Kredit Bank (Aset Bank) baru bisa diambil mungkin setelah tiga – lima tahun kemudian. Bisa dibayangkan kan apabila semua nasabah Bank menarik dana-nya secara bersamaan?

Risiko lain yang sudah sering kita dengar adalah risiko penurunan nilai intristik uang yang kita simpan di Bank. Saat ini kita bisa membelanjakan uang seratus ribu untuk 2 kilogram beras, namun apabila Rp 100 ribu itu kita simpan di Bank, lima tahun kemudian uang tersebut mungkin hanya bisa membeli 1 kilogram beras (walaupun ada kenaikan secara nominal misalnya jadi Rp 120 ribu). Itu gambaran risiko penurunan nilai intristik uang. Risiko yang tidak terlihat, dan kita tidak menyadarinya.

 Lalu Bagaimana Kita Menyikapinya Risiko Tersebut?

Dalam ilmu perencanaan keuangan, instrument Bank (tabungan / deposito) biasanya hanya digunakan untuk menyimpan dana cadangan, atau dana yang dibutuhkan sewaktu-waktu. Alokasikan sekitar 6 – 12 x pengeluaran bulanan untuk dana cadangan / dana darurat. Selebihnya (tentunya setelah Anda mempunyai program asuransi proteksi yang tepat) bisa kita gunakan untuk investasi yang lebih agresif, hal ini bertujuan agar kita bisa mengalahkan risiko penurunan nilai intristik uang yang kita miliki.

Pertanyaan nya, bagaimana kita berinvestasi? Apakah berinvestasi itu berisiko? Tunggu jawabannya minggu depan yaa.. Kita akan bahas tentang investasi..

Ayo share, subscribe & comment biar makin banyak orang yang melek tentang keuangan πŸ™‚ πŸ™‚

Similar articles

Comments