Kontributor 728x90

Asuransi Jiwa Tidak Didesain Untuk Semua Orang

Apa kabar teman-teman ?

Beberapa hari terakhir ini di sekitar saya ada banyak perbincangan tentang penting atau tidak nya sebuah asuransi jiwa.

Jawaban saya cenderung diplomatis... Karena sebuah asuransi jiwa, penting atau tidaknya sangat dipengaruhi oleh nilai ekonomi dari pihak yang akan diasuransikan.

Contoh Kasus : 

  • Saya ada seorang teman yang sudah lama jomblo, hidup sendiri di kota Jakarta, dan penghasilannya yang didapat dari pekerjaannya hanya dapat dipakai untuk bertahan hidup dari bulan ke bulan.. Tentu saat ini asuransi jiwa tidaklah dia perlukan, mungkin yang diperlukannya adalah pekerjaan baru.
  • Namun juga ada seorang teman lain, di mana sudah menikah... dan memiliki 5 orang anak..... dari 4 orang istri. Menurut teman-teman, apakah orang ini membutuhkan asuransi jiwa ? Tentu saja ! Bahkan asuransi jiwa yang diperlukan pun akan sangat besar karena minimal ada sembilan orang yang bergantung pada si pencari nafkah utama ini.

Dalam praktek karir saya sebagai seorang Wealth Preservation Expert, tugas saya bukanlah berjualan asuransi. Melainkan memberikan perlindungan keuangan atas risiko berhentinya kemampuan pencari nafkah utama dalam memberikan pendapatan.

Seringkali ada perasaan atau pikiran sungkan dalam membeberkan kenyataan bahwa hidup manusia itu tidak ada yang abadi, namun apa boleh buat, sebagai seorang profesional saya harus terus terang mengatakannya. Karena tidak mungkin pasangan, atau anak-anak dari si pencari nafkah yang bertanya kepada si pencari nafkah, "Papa, berapakah Uang Pertanggungan yang Papa sudah siapkan bagi kami ?"

Jadi intinya sederhana, jika Anda tidak memiliki nilai ekonomi bagi orang lain, maka sudah jelas bahwa Anda tidak membutuhkan asuransi jiwa atau pun nilai pertanggungan jiwa.

Di artikel berikutnya, saya akan ceritakan lebih lanjut tentang berapa nilai pertanggungan ideal bagi kita.

Similar articles

Comments