Kontributor 728x90

Banyak Uang Tidak Menyelesaikan Masalah

Saya ingin bercerita beberapa pandangan saya tentang uang. Uang adalah Ide. Hal ini saya dapat dari penulis Rich Dad, Poor Dad, Mr Robert Kiyosaki. Uang adalah ide, dan oleh sebab itu, tiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang uang. Sifatnya tidak universal, melainkan tergantung pada sebuah negara atau hukum dalam negara tersebut.

Contoh, jika Anda melempar uang 100.000 rupiah di kerumunan rakyat Indonesia, maka pasti akan terjadi keributan karena berebutan. Sedangkan jika Anda melempar uang 100 USD di tempat yang sama, maka BELUM TENTU akan terjadi keributan, apalagi jika uang yang Anda lempar adalah uang dari Afrika atau Zimbabwe. Mengapa demikian ? Hal ini dikarenakan Uang (ide) tersebut tidak langsung dapat dikenali oleh isi kepala manusia. Uang hanya akan bernilai jika kita melihatnya, lalu menerjemahkannya menjadi hal lain.

Satu contoh lagi bahwa uang adalah ide dan sifatnya relatif. Bayangkan sebuah jaket bomber yang awalnya hanya seharga Rp. 200.000,-, namun saat saya katakan bahwa jaket bomber tersebut adalah jaket bomber yang pernah dipakai oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, maka harga jaket tersebut akan naik menjadi -katakanlah- Rp 500.000,-. Belum lagi kalau saya katakan bahwa jaket tersebut pernah dipakai oleh Presiden Soekarno. Tentu harganya bisa melambung lebih tinggi lagi. Tapi, apalah artinya jaket tersebut, jika saya katakan bahwa sejak awal dibeli, jaket tersebut hanya pernah digunakan oleh saya saja ? Bisa jadi harganya malah turun... :-) 


Mengapa saya memulai artikel ini dengan cerita demikian ? Karena seringkali banyak orang yang gagal melihat nilai uang sesungguhnya. Otak adalah organ tubuh kita yang menilai uang tersebut. Otak tersebut bekerja berdasarkan input awal lalu pelan tapi pasti, menjadi sebuah kebiasaan. Bagi orang yang berpenghasilan UMR dalam sebulan, menghabiskan belanja kartu kredit sebulan senilai IDR 500.000,- hanya untuk nongkrong di Setarbaks (sebuah kedai kopi yang lazim ditemui di Mall), tentulah sebuah hal yang tidak masuk akal. Namun bagi orang yang berpenghasilan UMR dalam sehari, tentu hal tersebut biasa saja.

Hal inilah yang memastikan lagi bagi saya, uang adalah ide. Dan oleh sebab itu, nilainya pun menjadi relatif. Generasi milenial atau juga gen Y, yang belakangan baru mulai mencicipi nikmatnya pendapatan sendiri, seringkali blunder dengan uang. Uang dianggap adalah tujuan finalnya dalam hidup, hal ini tidak bisa disalahkan karena pada umumnya, orang tua para generasi milenial ini juga mengajarkan demikian. 

Dari kecil, kita sering mendengar "Belajar yang rajin, lalu masuk kuliah yang bagus, untuk bisa kerja di tempat yang bagus dan dapat gaji yang bagus", setidaknya demikianlah yang orang tua saya sering katakan. Untungnya saya sadar, bahwa tujuan hidup saya bukanlah sekedar gaji yang bagus melainkan lebih dari itu. Perbedaan kesadaran ini pula lah yang menyebabkan perbedaan cara pandang terhadap uang. Saya yakin, belum pernah ada orang tua atau guru yang berkata "sekolah yang bener agar nanti bisa pensiun dengan cara yang kamu inginkan..."

Sadar gak sih ? Setelah mendapatkan gaji yang bagus, umumnya kita akan menciptakan belenggu kehidupan kita sendiri ? Let me tell you this... setelah dapat gaji yang bagus, akan muncul kebiasaan untuk membelanjakan uang berdasarkan keinginan bukan karena kebutuhan (umumnya hal ini didorong oleh sosial). Dan karena ada yang namanya inflasi, maka terciptalah kondisi bahwa keinginan sudah lebih mahal daripada kenaikan gaji. UNTUNGNYA ada kartu kredit yang mengijinkan kita bisa mencicil 0% sampai dengan 24 bulan ! 

Perlahan-lahan, generasi milenial ini akan mulai mempersiapkan pernikahan (yang umumnya harus dicicil juga), dan sekaligus juga mulai mempersiapkan memiliki rumah (yang umumnya juga dicicil). Dengan semua "bantuan" ini, sebenarnya tanpa sadar kita dapat dengan mudah menjadi budak dari uang.

Saat bekerja, kita tidak menciptakan uang, melainkan hanya menukarkan uang dengan waktu kita. Saat menerima gaji, sebetulnya kita sudah menciptakan uang bagi perusahaan (sekaligus juga bagi Pemerintah, melalui Pajak). Saat belanja sesuatu secara tunai, sebetulnya kita sudah menciptakan uang bagi si penjual (terutama saat kita belanja hanya sekedar keinginan). Saat belanja sesuatu secara kredit, sebetulnya kita sudah menciptakan uang juga bagi kreditur.

Jika ingin menciptakan uang, berinvestasilah.

Tidak punya uang sama sekali, tentulah banyak masalah. Namun banyak uang juga tidak dapat menyelesaikan banyak masalah, TERUTAMA jika kita tidak melek keuangan. Jadi, rajin-rajinlah belajar tentang keuangan, karena selama hidup di dunia, kita membutuhkan uang untuk dapat menyelesaikan masalah di dunia dengan cara yang bisa kita tentukan sendiri. Kenalilah uang Anda, dan bekerja samalah dengan baik dengan uang tersebut.

Karena kalau kita banyak uang dan juga melek keuangan, maka dijamin bahwa pilihan kita dalam menjalankan hidup akan semakin baik dan terkendali. Bukankah itu yang kita semua inginkan ?

Similar articles

Comments