Kontributor 728x90

I Love You Too, Honey..

Disadari atau tidak, semakin banyak pasangan menikah yang berpisah dan menjadikan uang sebagai alasannya. Yang menarik, sebagian dari mereka sebenarnya cukup aman secara finansial. Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya adalah kebiasaan yang berbeda dalam mengelola keuangan.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan agar hubungan dengan pasangan bertambah solid:

1. Lakukan diskusi terbuka mengenai uang. Bicarakan kekhawatiran dan mimpi kita dengan pasangan. Terkadang kita berpikir tidak ingin membebani pasangan padahal belum tentu pasangan akan merasa terbebani. Justru ini bisa jadi pemicu agar kita dan pasangan belajar untuk mengelola keuangan dengan lebih baik agar mimpi finansial keluarga dapat tercapai.

2. Manfaatkan perbedaan yang ada. Kalau kita suka belanja sedangkan pasangan suka menabung, biarkan diri masing-masing bertanggung jawab untuk hal tersebut dalam pengelolaan keuangan keluarga. Jika ternyata sama-sama suka belanja, mengaktifkan automatic transfer dari akun gaji ke akun tabungan adalah salah satu hal yang dapat dilakukan. Jadwalkan 1-2 hari sesudah tanggal gajian, ya. Sisa uang bisa kita habiskan bersama-sama.

3. Joint accounts, akun pribadi atau keduanya? Sebaiknya sih kita punya dua-duanya. Akun pribadi digunakan seperti dompet untuk kebutuhan harian seperti biaya tranportasi ke kantor, sedangkan joint account digunakan untuk pengeluaran wajib rumah tangga seperti bayar cicilan KPR, listrik atau biaya asuransi. Dengan joint account, kita dan pasangan jadi bisa bersama-sama mengontrol pengeluaran rutin rumah tangga.

4. Ciptakan peace of mind dengan memastikan kita dan pasangan sudah memiliki asuransi yang cukup. Apapun pemikiran kita tentang asuransi, anggap ini sebagai tanda cinta terhadap pasangan dan keluarga kecil kita. Dengan berasuransi berarti kita memastikan pasangan akan baik-baik saja secara finansial jika sesuatu terjadi pada kita. Rumah tidak perlu dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup pasangan dan anala-anak.

5. Hutangmu adalah hutangku. Samakan persepsi akan bad debt. Tentukan bersama-sama batas maksimum pembelian dengan berhutang terutama yang sifatnya non-produktif seperti membeli gadget terbaru. Jika kita dan pasangan memiliki kebiasaan menggunakan kartu kredit, pastikan penggunaan sesuai dengan kemampuan untuk membayar lunas.

6. Kamu risk takers, saya risk averse. Mengingat ini berhubungan erat dengan pengembangan assets keluarga, jangan terburu-buru dalam membuat keputusan. Perbedaan profil resiko bisa diakomodasi melalui komposisi portfolio investasi. Yang pasti, cari instrumen investasi dengan tingkat resiko yang sesuai dengan tujuan keuangan keluarga dan jangka waktunya. Yuk tunjukan seberapa besar kita mencintai pasangan..

Happy Planning!.. :)

Similar articles

Comments